Khilafatul Muslimin Perwakilan Cilacap Tengah


AGENDA KEGIATAN WARGA KHILAFATUL MUSLIMIN
Januari 28, 2009, 2:01 am
Filed under: PEMBERITAHUAN

Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

Alhamdulillah di Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah, NKRI, saat ini telah terbentuk Perwakilan Khilafatul Muslimin yang terletak di Kelurahan Sidanegara, Kecamatan Cilacap Tengah. Khilafatul Muslimin Perwakilan Cilacap Tengah, begitulah disebut untuk Perwakilan ini.

Mengapa Disebut Perwakilan? Hal ini dikarenakan secara struktural belum memenuhi syarat sehingga belum berubah menjadi kemas’ulan (Tingkatan Terkecil Dalam Khilafatul Muslimin)

Walaupun Demikian Khilafatul Muslimin Perwakilan Cilacap Tengah senantiasa berda’wah tiada hendi untuk menda’wahkan sistem khilafah kepada ustadz-ustadz maupun warga awwan.

Khilafatul Muslimin Memiliki Pengajian Rutin Yang Diasuh oleh Al Ust. Aditia Al Tsilatsafi Hafidhohulloh meliputi kegiatan sebagai berikut

Kajian Pekanan membahas mengenai materi Aqidah Islam yang dilaksanakan setiap hari Ahad jam 10.00WIB.

Hafalan Bulanan dan Penyampaian Tafsirnya setiap ahad pekan ke-3

Demikianlah agenda kegiatan yang diadakan oleh Khilafatul Muslimin Perwakilan Cilacap Tengah.

Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

JIKA ADA YANG BERMINAT UNTUK MENGAJI BERSAMA/ MENGETAHUI TENTANG KHILAFATUL MUSLIMIN/ MELIHAT LEBIH DEKAT KHILAFATUL MUSLIMIN DAPAT MENGHUBUNGI KHILAFATUL MUSLIMIN PERWAKILAN CILACAP DENGAN

CP. AL-UST. ADITIA AL-TSILATSAFI HAFIDZHOHULLOH DI NO. TELEPON 085726090725



METODOLOGI DAKWAH NABI IBRAHIM
Januari 26, 2009, 11:11 am
Filed under: Da'wah

METODOLOGI DAKWAH NABI IBRAHIM

Ditulis oleh andrihasanhardiansyah di/pada Nopember 26, 2008

Oleh : Andri Hardiansyah

I. SEJARAH

Ibrahim dilahirkan di Babylonia, bagian selatan Mesoptamia (sekarang Irak). Ayahnya bernama Azar, seorang ahli pembuat dan penjual patung. Nabi Ibrahim AS dihadapkan pada suatu kaum yang rusak, yang dipimpin oleh Raja Namrud, seorang raja yang sangat ditakuti rakyatnya dan menganggap dirinya sebagai Tuhan. Sejak kecil Nabi Ibrahim AS selalu tertarik memikirkan kejadian-kejadian alam. Ia menyimpulkan bahwa keajaiban-keajaiban tsb pastilah diatur oleh satu kekuatan yang Maha Kuasa.

Semakin beranjak dewasa, Ibrahim mulai berbaur dengan masyarakat luas. Salah satu bentuk ketimpangan yang dilihatnya adalah besarnya perhatian masyarakat terhadap patung-patung. Nabi Ibrahim AS yang telah berketetapan hati untuk menyembah Allah SWT dan menjauhi berhala, memohon kepada Allah SWT agar kepadanya diperlihatkan kemampuan-Nya menghidupkan makhluk yang telah mati. Tujuannya adalah untuk mempertebal iman dan keyakinannya.

Allah SWT memenuhi permintaannya. Atas petunjuk Allah SWT, empat ekor burung dibunuh dan tubuhnya dilumatkan serta disatukan. Kemudian tubuh burung-burung itu dibagi menjadi empat dan masing-masing bagian diletakkan di atas puncak bukit yang terpisah satu sama lain. Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim AS untuk memanggil burung-burung tsb. Atas kuasa-Nya, burung yang sudah mati dan tubuhnya tercampur itu kembali hidup. Hilanglah segenap keragu-raguan hati Ibrahim AS tentang kebesaran Allah SWT.

Orang pertama yang mendapat dakwah Nabi Ibrahim AS adalah Azar, ayahnya sendiri. Azar sangat marah mendengar pernyataan bahwa anaknya tidak mempercayai berhala yang disembahnya, bahkan mengajak untuk memasuki kepercayaan baru menyembah Allah SWT. Ibrahim pun diusir dari rumah.

Ibrahim merencanakan untuk membuktikan kepada kaumnya tentang kesalahan mereka menyembah berhala. Kesempatan itu diperolehnya ketika penduduk Babylonia merayakan suatu hari besar dengan tinggal di luar kota selama berhari-hari. Ibrahim lalu memasuki tempat peribadatan kaumnya dan merusak semua berhala yang ada, kecuali sebuah patung yang besar. Oleh Ibrahim, di leher patung itu dikalungkan sebuah kapak. Akibat perbuatannya ini, Ibrahim ditangkap dan diadili. Namun ia menyatakan bahwa patung yang berkalung kapak itulah yang menghancurkan berhala-berhala mereka dan menyarankan para hakim untuk bertanya kepadanya. Tentu saja para hakim mengatakan bahwa berhala tidak mungkin dapat ditanyai. Saat itulah Nabi Ibrahim AS mengemukakan pemikirannya yang berisi dakwah menyembah Allah SWT.

Hakim memutuskan Ibrahim harus dibakar hidup-hidup sebagai hukumannya. Saat itulah mukjizat dari Allah SWT turun. Atas perintah Allah, api menjadi dingin dan Ibrahim pun selamat. Sejumlah orang yang menyaksikan kejadian ini mulai tertarik pada dakwah Ibrahim AS, namun mereka merasa takut pada penguasa.

Langkah dakwah Nabi Ibrahim AS benar-benar dibatasi oleh Raja Namrud dan kaki tangannya. Karena melihat kesempatan berdakwah yang sangat sempit, Ibrahim AS meninggalkan tanah airnya menuju Harran, suatu daerah di Palestina. Di sini ia menemukan penduduk yang menyembah binatang. Penduduk di wilayah ini menolak dakwah Nabi Ibrahim AS. Ibrahim AS yang saat itu telah menikah dengan Siti Sarah kemudian berhijrah ke Mesir. Di tempat ini Nabi Ibrahim AS berniaga, bertani, dan beternak. Kemajuan usahanya membuat iri penduduk Mesir sehingga ia pun kembali ke Palestina.

Setelah bertahun-tahun menikah, pasangan Ibrahim dan Sarah tak kunjung dikaruniai seorang anak. Untuk memperoleh keturunan, Sarah mengizinkan suaminya untuk menikahi Siti Hajar, pembantu mereka. Dari pernikahan ini, lahirlah Ismail yang kemudian juga menjadi nabi. Ketika Nabi Ibrahim AS berusia 90 tahun, datang perintah Allah SWT agar ia meng-khitan dirinya, Ismail yang saat itu berusia 13 tahun, dan seluruh anggota keluarganya. Perintah ini segera dijalankan Nabi Ibrahim AS dan kemudian menjadi hal yang dijalankan nabi-nabi berikutnya hingga umat Nabi Muhammad SAW.

Allah SWT juga memerintahkan Ibrahim AS untuk memperbaiki Ka’bah (Baitullah). Saat itu bangunan Ka’bah sebagai rumah suci sudah berdiri di Mekah. Bangunan ini diperbaikinya bersama Ismail AS. Hal ini dijelaskan dalam Al Qur’an surat Al-Baqarah ayat 127. Ibrahim AS adalah nenek moyang bangsa Arab dan Israel. Keturunannya banyak yang menjadi nabi. Dalam riwayat dikatakan bahwa usia Nabi Ibrahim AS mencapai 175 tahun. Kisah Nabi Ibrahim AS terangkum dalam Al Qur’an, diantaranya surat Maryam: 41-48, Al-Anbiyâ: 51-72, dan Al-An’âm: 74-83.

II. NABI IBRAHIM DALAM MENGHADAPI MAD’U

Ada dua karakteristik mad’u yang dihadapi oleh Nabi Ibrahim AS. Pertama, ada orang yang sudah tertutup hatinya. Tipe ini benar-benar sulit untuk didakwahi sekalipun sudah disampaikan dengan berbagai caradan pendekatan terbaik. Namum menarik kesimpulan seperti ini tidak dibolehkan kecuali jika jika dakwah telah diperjuangkan, sebagaimana yang telah dilakukan Nabi Nuh As[QS. Nuh:5-20]. Bukan hanya sekali atau dua kali mencoba lalu gagal dan memvonis mad’u tidak layak didakwahi. Kedua, tipe yang terbuka hatinya. Kerja dakwah ibarat sales yang menjajakan barang dagangan. Ia harus disajikan dengan cara yang baik dan menarik, benar. Lewat kisah nabi Ibrahim as, Qur’an menyajikan uslub (cara) yang baik dan menarik. Sedikitnya ada 9 Rambu dakwah yang dilakukan Nabi Ibrahim As, yaitu pada Surat Maryam 41-50 :

A. Berlaku lemah lembut dan menghindari kesan menggurui. Secara manusiawi, orang yang lebih tua tidak mau digurui oleh yang lebih muda. Bahkan cara ini harus dilakukan dimulai sampai pada tingkat pemanggilan yang sudah harus terkesan lembut. Allah swt berfirman : “Ingatlah ketika ia (Nabi Ibrahim) berkata kepada bapaknya : ‘wahai bapakku’” (Maryam 41). Pada kata yaa abati dalam bahasa arab digunakan lilmulathafah yaitu panggilan yang mengesankan rasa sayang dan manja. Insya Allah, jika hati orang tua masih terbuka, panggilan yang tampaknya sederhana ini akan tergugah jiwanya.

B. Memiliki hujjah yang kuat dan mematikan. Ini seperti yang dilakukan oleh nabi Ibrahim As dalam QS Maryam:42. Suatu penjelasan yang sederhana, namun mampu menjadikan orang tuanya berpikir secara logis terhadap kesalahan yang dilakukan.

C. Selalu berupaya menambah ilmu pengetahuan dan mampu menampakkan keilmiahan dakwah yang dibawanya. Inilah yang tersirat dalam kata-kata Nabiyullah Ibrahim as. pada orang tuanya (Maryam : 43).

D. Mampu menjelaskan jalan-jalan kesesatan yang ditebarkan setan dan tentaranya (maryam : 44).

E. Memiliki ruhiah yang tinggi, sehingga mampu mengingatkan orang tua dengan adzab Allah yang ditimpakan baik di dunia maupun di akhirat bagi orang yang terus-menerus jauh dari ajaran Allah. (Maryam : 45).

F. Memiliki kesiapan yang tinggi mengenai resiko dakwah. Misal, pengucilan, pengusiran, dan mungkin kekerasan. Mush’ab bin Umair dan Sa’ad bin Abi Waqqash adalah di antara sahabat yang merasakan beratnya tantangan ini. Namun hal ini berhasil mereka hadapi dengan sikap tsabat (teguh). QS : 19:46.

G. Menjaga hubungan baik dengan orang tua sekalipun menjadi penantang dakwah. Tetap senantiasa mendoakan agar mereka kembali ke jalan yang diridhai Allah. Itupun yang dilakukan Ibrahim as dalam QS Maryam : 47.

H. Seorang da’i harus teguh dalam menghadapi ujian da’wah dari orang tua. (Maryam : 4

III. BEBERAPA FAKTOR YANG DIPELIHARA NABI IBRAHIM DALAM BERDAKWAH

Nabi Ibrahim as. adalah salah seorang manusia terbaik yang pernah hidup di muka bumi ini. Beliau sering disebut-sebut sebagai “bapak ajaran Tauhid”, meskipun sebenarnya sudah banyak Nabi dan Rasul sebelumnya yang sama-sama menyebarkan ajaran Tauhid. Tentu ada alasannya mengapa beliau memiliki nama yang harum, sehingga beliau senantiasa dikenang, ribuan tahun setelah masa hidupnya.

Dalam Al-Qur’an terdapat sebuah surah khusus yang diberi judul “Ibrahim”. Tentu Allah SWT memiliki alasan yang sangat bagus mengapa sosok Luar biasa ini dijadikan sebuah titik fokus dalam salah satu surat di dalam Kitab Suci-Nya. Secara spesifik, Allah memerintahkan kita untuk memperhatikan salah satu episode dalam hidupnya, yaitu serangkaian doa yang pernah diucapkannya dahulu kala. Setiap Muslim – khususnya aktifis dakwah – bisa mengambil banyak pelajaran dari episode ini.

Dan ingatlah, ketika Ibrahim berdoa, “Ya Rabbi, jadikanlah negeri ini negeri yang aman, dan jauhkanlah aku dan anak cucuku dari menyembah berhala,”
(Q.S. Ibraahiim 14 : 35)

Prasyarat utama dari keberhasilan dakwah adalah keamanan. Jika tempat kita berdakwah tidak aman, maka dakwah tentu tidak bisa dilaksanakan secara maksimal dan memerlukan beberapa strategi khusus, misalnya secara sembunyi-sembunyi. Metode sembunyi-sembunyi ini pernah digunakan pula oleh Nabi Muhammad saw. pada awal dakwahnya, karena pada saat itu pengikut beliau masih sangat sedikit, dan ajaran Islam dianggap sebagai musuh oleh para penyembah berhala, khususnya di Mekkah.

Prasyarat berikutnya adalah aqidah dari para aktifis dakwah itu sendiri. Bagaimana mungkin ajaran Tauhid bisa disebarkan oleh seseorang yang menyembah berhala? Nabi Ibrahim as. bahkan tidak malu-malu untuk memohon perlindungan Allah SWT agar ia dan anak-cucunya tidak sampai tergoda untuk menjadi penyembah berhala. Dalam hal ini, beliau telah berpikir sangat jauh. Nabi Ibrahim as. tahu bahwa berhala bukan hanya batu atau kayu yang dipahat menjadi suatu bentuk dan disembah-sembah. Kekuasaan, kehormatan, ego pribadi dan uang pun bisa menjadi berhala. Oleh karena itu, Nabi Ibrahim as. benar-benar berdoa agar Allah tidak memalingkannya dari Tauhidullah kepada berhala-berhala yang kadang sulit untuk diidentifikasi.

Ya Rabbi, berhala-berhala itu telah menyesatkan banyak dari manusia. Barangsiapa mengikutiku, maka orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa mendurhakaiku, maka Engkau Maha Pengampun, Maha Penyayang,”

(Q.S. Ibraahiim [14] : 36)

Kita dapat melihat sikap yang menjadi ciri khas Nabi Ibrahim as. di sini, yaitu lembut dan penuh kasih sayang kepada siapa pun. Mengomentari masalah penyelewengan aqidah, Nabi Ibrahim as. sama sekali tidak membenci para penyembah berhala. Sebaliknya, beliau mengadukan keberadaan berhala-berhala tersebut yang dianggapnya sebagai oknum yang menyebabkan banyak orang tersesat. Beginilah sikap seorang aktifis dakwah sejati. Jika melihat ada orang yang berbuat menyimpang, ia tidak membenci orangnya, melainkan perbuatannya. Mereka melakukannya karena memiliki kasih sayang yang amat besar pada semua objek dakwahnya. Mereka begitu mencintai setiap saudaranya sehingga ingin menjauhkan mereka dari segala keburukan. Inilah motivasi dakwah yang benar.

Seseorang yang membenci objek dakwahnya selamanya tidak akan berhasil menyelesaikan misi dakwah. Tidak akan ada yang mau mendengarkannya, karena tidak ada orang yang mau dibenci. Tugas seorang kader dakwah adalah menyadarkan objek-objek dakwahnya bahwa jalan yang ditentukan oleh Allah adalah jalan yang terbaik. Jika mereka tidak mau mengikutinya, maka mereka akan menganiaya dirinya sendiri.

Selanjutnya, Nabi Ibrahim as. menegaskan bahwa orang-orang yang mengikutinya adalah bagian dari golongannya. Akan tetapi, beliau tidak mengutuk mereka yang menolak dakwahnya. Di sisi lain, beliau juga tidak diperbolehkan untuk mendoakan orang-orang kafir. Oleh karena itu, Nabi Ibrahim as. hanya menegaskan bahwa sesungguhnya Allah memiliki sifat yang Maha Penyayang dan Maha Pengampun. Sekali lagi, jelaslah bagi kita bahwa Rasul yang agung ini adalah seseorang yang memiliki hati sangat lembut, bahkan kepada orang-orang yang memusuhinya sekalipun.

Selain itu, beliau tidak mengatakan “barang siapa yang tidak mengikutiku,” namun menggunakan kata-kata : “barang siapa mendurhakaiku”. Artinya, beliau tidak menuntut orang-orang untuk mengikutinya tanpa sebab. ‘Durhaka’ adalah istilah yang kita gunakan ketika ada seseorang yang tidak menunaikan hak kita, sementara kita telah menunaikan haknya. Anak yang melawan orang tua disebut durhaka, demikian juga orang tua yang tidak memberikan hak-hak pada anaknya. Dengan demikian, Nabi Ibrahim as. hanya ‘mengecam’ orang-orang yang memfitnahnya atau tidak mengindahkan argumen-argumen logis yang telah diajukannya. Tidak mentang-mentang karena beliau seorang Rasul, lantas semua orang dituntut untuk mengikutinya. Nabi Ibrahim as. tidak mengelak dari kewajibannya untuk menyampaikan kebenaran tanpa kenal lelah. Beliau senantiasa siap untuk berdiskusi dengan siapa pun dan menyampaikan argumen-argumen yang baik. Seorang aktifis dakwah pun hendaknya memposisikan dirinya dengan cara yang sama.

Ya Rabb, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Rabb, yang demikian itu agar mereka melaksanakan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rizqi dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur,”

(Q.S. Ibraahiim [14] : 37)

Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim as. untuk meninggalkan anak istrinya (Nabi Ismail as. dan ibunya) di sebuah daerah tandus yang kini dikenal sebagai kota Mekkah. Selain karena yakin kepada pertolongan Allah, tentu ada alasan lain mengapa Nabi Ibrahim as. mau meninggalkan kedua orang yang sangat dicintainya itu di tempat tandus tak bertuan. Nabi Ibrahim as. merasa yakin pada kualitas diri keluarganya. Tidak mungkin beliau meninggalkan mereka berdua hanya dengan berharap pada pertolongan Allah semata, karena beliau pastilah sangat memahami makna tawakkal.

Bagi seorang kader dakwah, keluarga adalah benteng pertama yang harus dibangun setelah dirinya sendiri. Tidak ada alasan membenahi orang lain sementara keluarga sendiri dibiarkan terbengkalai. Ini adalah suatu kekeliruan yang amat fatal. Seluruh anggota keluarga kita harus dididik dengan baik sehingga memiliki kualitas yang jauh di atas standar, standar apa pun itu. Dengan demikian, umat Islam akan dipenuhi oleh para pemuda yang dibesarkan di dalam keluarga yang amat tangguh.

Lihatlah kekhawatiran Nabi Ibrahim as. yang terlihat dengan jelas di dalam doanya! Beliau tidak khawatir ajal menjemput anak istrinya. Jika mereka benar-benar menemui ajalnya di sana, maka setidaknya mereka wafat dalam keadaan mematuhi perintah Allah SWT. Yang dikhawatirkan adalah aqidah keduanya. Nabi Ibrahim as. memohon agar Allah memberikan kecenderungan pada mereka agar terus melaksanakan shalat dengan penuh komitmen. Beliau pun memohon berbagai kebaikan untuk mereka, bukan untuk memanjakan mereka, namun dengan harapan agar mereka senantiasa bersyukur pada Allah. Aqidah adalah hal pertama yang harus kita pikirkan demi kebaikan keluarga kita.

Rabb, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami tampakkan; dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit,”

(Q.S. Ibraahiim [14] : 3)

Apa alasannya Nabi Ibrahim as. mengucapkan doa semacam ini? Hanya sekedar penegasan bahwa Allah Maha Tahu? Nampaknya tidak.

Kalau kita membaca doa di atas dan mencoba memahami betul maknanya, kita akan melihat bahwa bahkan seorang manusia saleh sekelas Nabi Ibrahim as. sekalipun mengakui kelemahan dirinya. Kadang-kadang kita membuat kesalahan dan menutup-nutupinya dengan sejuta pembenaran. Kadang pembenaran itu kita sampaikan pada orang lain, kadang hanya disimpan di dalam hati untuk menekan rasa bersalah. Nabi Ibrahim as. bersikap sangat ksatria dengan mengakui bahwa dirinya pun memiliki potensi untuk melakukan kesalahan semacam itu. Karena itu, dengan doa ini, seolah ia menegaskan kepada Allah bahwa ia tidak pernah berusaha menyembunyikan apa pun dari-Nya, dan semoga ia dihindarkan dari keinginan semacam itu.

Seorang kader dakwah tidak terhindar dari kesalahan. Jika sampai tergelincir pada suatu kesalahan, kita tidak perlu menutup-nutupinya. ‘Status’ sebagai kader dakwah tidak perlu membuat kita merasa berat untuk mengakui kelemahan diri. Sebaliknya, dengan mengakui kesalahan secara ksatria, justru kita akan mendapat lebih banyak kehormatan.

“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tuaku Ismail dan Ishaq. Sungguh, Rabb-ku benar-benar Maha Mendengar doa.” (Q.S. Ibraahiim [14] : 39)

Dari sekian banyak nikmat yang Allah anugerahkan kepadanya, Nabi Ibrahim as. menyebutkan salah satu yang dirasakannya sebagai nikmat terbesar, yaitu dua orang anak. Kehadiran keduanya sulit untuk diterima akal sehat, karena waktu itu Nabi Ibrahim as. telah berusia lanjut. Akan tetapi, tidak ada yang tidak mungkin jika Allah berkehendak.

Kehadiran Ismail as. dan Ishaq as. tentu saja sangat patut untuk disyukuri. Keduanya adalah orang saleh, bahkan kemudian diangkat menjadi Nabi. Lagi-lagi Nabi Ibrahim as. menunjukkan pada semua kader dakwah penerusnya bahwa anak yang saleh adalah rizqi yang tidak ternilai harganya. Oleh karena itu, harus dipahami bahwa salah satu tugas utama dari seseorang yang telah memiliki keturunan (sesibuk apa pun pekerjaannya) adalah membesarkan anaknya dengan baik.

Rabbi, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan shalat. Ya Rabb, perkenankanlah doaku,” (Q.S. Ibraahiim [14] : 40)

Nabi Ibrahim as. tidak khawatir anak cucunya jatuh miskin. Beliau juga tidak khawatir jika mereka terbunuh atau disiksa di jalan dakwah. Asalkan mereka tetap memelihara aqidah-nya, maka keadaan tersebut sudah sangat ideal dalam pandangan beliau. Demikianlah pandangan seorang kader dakwah, tidak kurang dan tidak lebih.

Ya Rabb, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan semua orang yang beriman pada hari diadakan perhitungan,” (Q.S. Ibraahiim [14] : 41)

Seorang Rasul agung memohon ampun atas dosa-dosanya, sementara Allah sendiri telah menjamin nasibnya di akhirat kelak! Beginilah seorang manusia pilihan memelihara kerendahhatiannya. Tidak ada alasan untuk merasa suci di hadapan Allah, karena setiap orang pernah melakukan kesalahan. Di samping itu, kita hanya bisa masuk surga (atau terhindar dari neraka) jika Allah mengijinkannya. Bisakah kita menentang Allah, sekiranya Dia berkehendak lain?

Hal lainnya yang menarik untuk diperhatikan adalah bahwa Nabi Ibrahim as. sungguh-sungguh (seorang Nabi tidak akan menggunakan ucapan yang sia-sia, apalagi ketika berhadapan dengan Allah) mendoakan semua orang yang beriman. Serendah apa pun kadar keimanan seseorang, maka ia termasuk dalam doa Nabi Ibrahim as. tersebut. Banyak Mukmin yang membangkang, tapi bukan berarti ia sudah tidak beriman. Selama ia masih beriman, maka ia masih saudara kita, dan sungguh pantas bagi kita untuk mendoakannya.

Orang tua kita, ayah, ibu, paman, bibi, mungkin mertua merupakan obyek dakwah yang strategi. Kelompok inilah yang akan memberikan dukungan utuh bila aktivis muslim terhimpit cobaan dan ujian dakwah. Ini terjadi jika ortu sudah terkondisikan untuk dapat menerima dakwah. Sebaliknya, jika kelompok ini diabaikan maka boleh jadi akan menjadi bumerang bagi kita. Di sinilah perlunya kehati-hatian. Pendekatan yang salah dapat menimbulkan ekses yang tak sehat antara kita dengan orang tua. Bahkan tak jarang hubungan jadi terputus hanya karena kesalahan awal pada pendekatan.

IV. KESIMPULAN

1. Para da’i di jalan Alloh tidak akan mundur oleh perlawanan apapun, karena ia telah mempunyai kesiapan dan kemampuan untuk itu, mereka memiliki ketajaman pikiran dan kompetensi dibidang ini, tercakup dalam apa yang disebut sebagai “hidayah kebenaran” dengan hujjah yang matang, sehingga dengan gampang membedakan antara yang haq dan yang bathil.

2. Mengemukakan masalah tauhid dan syirik, iman dan kekafiran jelas dan tegas, tanpa ada keraguan sedikitpun dan tanpa rasa takut, mengahadapkan persoalan ini kepada ummat manusia dan menentang kebatilan mereka.

3. Berusaha mengungkapkan bahwa yang batil adalah batil dengan cara yang tak terbantahkan, dengan argumentasi yang kuat, semuanya dijelaskan tanpa ada rasat takut ataupun khawatir.

4. Keyakinan yang kokoh akan perlindungan dan pertolongan Allah, pada waktu dan tempat yang tepat, karena adalah kehendak Ilahiyah yang maha tinggi.

5. Penentangannya terhadap Raja yang mengklaim dirinya memiliki sifat-sifat ketuhanan.

Dalam hal ini Ibrahim telah membentengi dirinya dengan argumentasi yang kuat dan dapat mematahkan segala argumentasi lawan bicaranya dengan telak. Hal ini tertuang dalam QS. Al-Baqarah ayat 258 :

A. Bahwa para Da’i kepada Allah akan mendapatkan perlawanan pertama kali adalah dari para penguasa yang cenderung untuk lupa diri dan tidak mau bersyukur terhadap nikmat yang telah dilimpahkan Allah kepada mereka. Tapi memang demikianlah manusia, suka melebihi batas kalau melihat dirinya berkecukupan.

B. Untuk mendapatkan argumentasi dan sandaran kebenaran yang tidak tergoyahkan, maka seorang da’i tentunya harus memperluas ilmu pengetahuannya, sehingga setiap masalah dapat dimengerti ujung pangkalnya.

C. Allah selalu bersama dengan kebenaran, bersama para da’i yang membuat musuh-musuhnya bungkam dan klaim mereka terpatahkan.

D. Menolak melakukan ibadah kepada selain Allah bagi para hamba, walaupun orang yang dihadapi seorang da’I adalah ayah atau ibunya sendiri dimana mereka adalah manusia yang paling dekat dengan hubungan darah. Tetapi kebenaran diletakan diatas segalanya, termasuk hubungan darah, hubungan ayah-anak, hubungan kekerabatan atau apapun.

E. Menggunakan saran dan jurus yang tepat dalam menghadapi para penyembah tuhan selain Allah untuk mengalahkan hujah mereka. Ibrahim batal menuhankan bintang, bulan dan matahari karena semua tenggelam, walaupun bulan tampak lebih besar dari bintang dan matahari tampak lebih perkasa dari pada bulan tetapi karena sama-sama tenggelam dan tidak muncul lagi kecuali waktunya yang sudah ditentunkan maka Ibrahim menggugurkan ketuhanan benda-benda langit tersebut. Kemudian menemukan definisi tentang tuhan, yang pasti tuhan sebenarnya tidak mungkin tenggelam atau sirna, karean dia adalah tuhan langit dan bumi, tuhan manusia dan segala yang ada. Setelah itu ibrahim mendeklarasikan ketidak terlibatannya dalam ke musyrikan.

F. Ainul Yaqiin bahwa Allah SWT akan selalu memberikan inspirasi kepada penyeru kepada- NYA untuk memperkuat hujjah mereka, Allah akan selalu mendukung dan meninggikan derajat bagi mereka yang bersabar dan selalu berharap kepada Allah. Itulah janji Allah kepada para da’i illaalah di setiap saat sebagaimana ditegaskan dalam ayat-ayat al-qur’an al- kariem.

G. Hakikat seluruh permukaan bumi ini adalah milik Allah, maka setiap da’i tidak boleh merasa asing atau tersiksa diluar tanah kelahirannya, sepanjang dia datang ketempat itu dalam rangka dakwah ilallah. Hal itu sama yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim.Ibrahim telah mengembara dari irak, palestina, yordan, hejaz, mesir dan palestina untuk kedua kalinya.

H. Hijrah yang dicontohkan Nabi Ibrahim diniatkan karena Allah dan menuju kepada-Nya (melaksanakan perintahnya dan menjauhi laranganya). Hijrah bukan untuk mencari keselamatan atau mencari kemegahan, atau untuk tujuan-tujuan duniawi.

I. Para dai selalu dan selamanya harus mencari “tanah garapan” yang baru, dimana dia bisa menyeru kepada Allah . ini dilakukan bila misalnya telah “sempit” di kediamannya semula.

J. Paham yang benar tentang kecintaan pada tanah air adalah tempat mana suara kebenaran terdengar nyaring dan disembah didalamnya Allah semata, tiada sekutu baginya.

V. REFERENSI

i. Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Mendulang Mutiara Hikmah dari Perjalanan Hidup Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

ii. Syamsuddin Noor, S.Ag, Dahsyatnya Doa Para Nabi

iii. Abu Nizhan, Buku Pintar Al-Qur`an – Halaman 158

iv. Shalat for Character Building – Halaman 159

v. Nafron Hasjim, W. A. L. Stokhof – 1993, Kisasu l-Anbiya: karya sastra yang bertolak dari Quran serta teks kisah Nabi – Halaman 327

vi. Dr. Jerald F. Dirks, Abrahamic Faiths – Halaman 46

vii. Fadlun Amir – 1990, Kapita selekta mutiara Islam – Halaman 76

viii. Firdaus A. N. – 1991, Panji-panji dakwah – Halaman 19

ix. Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Serial media dakwah – Halaman 31

x. Zainuddin, Mahfudh Syamsul Hadi M. R., Muaddib Aminan A. R., Cholil Uman – 1994,
xi. Rahasia keberhasilan dakwah K.H. Zainuddin M.Z. – Halaman 131

xii. Ibn Taymiyyah, Jangan Biarkan Penyakit Hati Bersemi – Halaman 204

xiii. Abdul Hadi Awang , Beriman Kepada Rasul – Halaman 26

xiv. e-books: http://www.google.com/books?hl=en&uid=11984674828539566613

xv. Andri blogspot : http://andrihardiansyah.blogspot.com/



TAFSIR QS. 9: 111-112
Januari 26, 2009, 11:05 am
Filed under: MATERI HAFALAN, TAFSIR ALQURAN

MATERI HAFALAN PERTAMA

WARGA KHILAFATUL MUSLIMIN DI CILACAP

JUAL BELI (BAI’AT) DAN BEBERAPA POIN PENTING YANG MENDASARINYA

QS. At-Taubah (9): 111-112

(Khot)


111. Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar.


112. Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat
1, yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat Munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.

Sesungguhnya Allah memberitahukan kepada orang yang beriman dari hamba-hambanya bahwa jika mereka bersedia menjual diri dan harta mereka dengan berjihad dijalan Allah maka Allah akan membelinya dengan syurga. Hal ini menunjukkan betapa besar karunia Allah serta kemurahanNya kepada hamba.

Berkata Hasan Al-Basri dan Qotadah: “Jika mereka bersedia menjual (berbai’at) demi Allah, maka tinggilah harga mereka”.

Berkata Syamir bin Athiyah: “Tidak seorangpun mengaku muslim melainkan dia pasti bersedia untuk meletakkan bai’at di lehernya. Dia menepatinya dan bersedia mati karnanya”. Kemudian Beliau membaca ayat ini (Qs. 9 : 111).

Abdullah bin Rawahah berkata kepada Rasulullah , pada malam Perjanjian Aqobah (Bai’at Aqobah), “Tentukanlah syarat sesukamu yang harus kami penuhi untuk Robbmu dan untuk dirimu yaa Rasulullah”. Maka Beliau Saw bersabda: “Aku menentukan syarat untuk Robbku agar kalian menyembahnya dan agar kalian tidak menyekutukan sesuatu apapun dengannya dan aku menentukan syarat untuk diriku agar kalian melindungiku sebagaimana kalian melindungi jiwa dan harta kalian”. Para sahabat bertanya: “apa imbalannya jika kami menepatinya ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab “SYURGA”. Merekapun berseru: “Betapa menguntungkan jual beli ini, kami tidak mau mengganti dan tidak ingin diganti”. Maka turunlah ayat ini (QS. 9 :111) artinya mereka sudah puas dengan harga syurga yang Allah tawarkan untuk membeli diri dan harta mereka sehingga tidak akan pernah menerima tawaran lain sebagai penggantinya bahkan mereka tidak pernah mau mendengar tawaran lain berupa apapun yang ditawarkan kepada mereka untuk memalingkan mereka dari Jihad Fiesabilillah. Yang dapat membatalkan syurga yang dijanjikan Allah itu, meskipun dengan seluruh isi dunia. Selama hayat dikandung badan, mereka bersungguh sungguh menjaga perjanjian mereka itu, bersiap siaga kapan saja untuk menepatinya, untuk mendapatkan keuntungan yang tiada tara, yang mereka yakin sekali akan kebenarannya, bahwa Allah pasti menepati janjinya.

Diriwayat dalam kitab Shohihain Rasulullah bersabda, “Allah menjamin dan menanggung bagi siapa saja yang keluar ke jalan Allah untuk semata-mata berjihad di jalanKu dan membenarkan RasulKu jika dia wafatkan, maka dimasukkan ke dalam surga atau dipulangkan ke rumahnya dengan memperoleh pahala atau membawa ghonimah”. Inilah maksud firman Allah Wa’dan ‘alaihi haqqan …( Janji Allah yang Haq dalam Injil, Taurat dan Qur’an).

Allah telah mencatat janji itu didalam kitab-kitabnya yang agung, yaitu Taurat yang diturunkan kepada Musa, Injil yang diturunkan kepada Isa dan Al-Qur’an yang diturunkan kepada Muhammad Rasulullah Saw.. maka bergembiralah orang-orang yang sudah menyatakan dan menepati bai’at (jual beli) dengan Allah itu dengan kemenangan yang besar dan kenikmatan yang abadi.

Ayat ini juga menerangkan betapa tinggi nilai seorang hamba ketika dia mengikat perjanjian jual beli kepada Allah, meskipun dia tadinya adalah orang yang penuh dosa dan noda. Kita umpamakan seseorang yang memiliki sebuah guci tua yang terbiar dihalaman rumahnya, yang setiap hari terkena hujan dan panas, yang berlumur debu dan lumpur, tidak ada seorangpun yang menghiraukannya. Tiba tiba datang seorang ahli arkiologi, ketika melihat guci tua itu dia menawar dengan harga seratus juta, dia benar benar akan membayarnya seratus juta, transaksi untuk itu akan dilaksanakan beberapa hari lagi, dan sekarang diadakan perjanjian yang disaksikan oleh beberapa orang tokoh pemerintah dan pemuka adat, dicatat diatas kertas segel dengan cap dan tanda tangan notaris yang sah…..pertanyaannya, apakah setelah perjanjian itu, guci tua tadi akan tetap terbiar dan tergeletak dihalaman rumah? Tetap berlumur debu dan lumpur? Tetap terkena panas dan hujan? Jawabannya tentu tidak, sekali-kali tidak!!. Pemilik guci yang pandai, tentu serta merta membawa masuk guci tua itu ketempat yang aman, membersihkannya dengan teliti dan hati hati hingga benar benar mengkilat, membungkusnya dengan kain yang lembut berlapis lapis, hingga tidak ada debu yang dapat menempel dengan mudah. Sementara menunggu saat transaksi itu tentu, dia akan merawat dan menjaganya dengan extra ketat dan extra hati hati hingga tidak mengecewakan paembelinya.

Maka bagaimana dengan jiwa raga yang kotor dan berlumur noda dan dosa ini, ketika Allah menawar dengan harga yang sangat tinggi, bukan sekedar seratus atau dua ratus juta, melainkan dengan syurga seluas langit dan bumi yang mengalir sungai-sungai dibawahnya, kekal abadi selamanya. Masih adakah yang diragukan, padahal Allah telah mencatat perjanjian itu dalam tiga kitab suci yang mulia, dipersaksikan oleh rasul yang mulia dan oleh hamba-hamba Allah yang sholih?. Orang yang beriman pastilah serta merta menerina tawaran itu, memenuhi perjanjiannya, dan menjaga diri, jiwa dan raganya. Membersihkannya, mensucikannya, dan melindunginya dari noda dan dosa dengan cara-cara yang diperintahkan Allah sebagaimana Allah firmankan dalam ayat berikutnya (112)


Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat Munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.

At-Taaibuun artinya senantiasa bertaubat atas semua dosa yang telah lalu, dan kedepannya menghindarkan diri dari kenistaan.


Al-Aabiduun artinya tekun beribadah serta senantiasa menjaga diri, menjaga lisan dan perbuatan serta menjaga hati untuk tetap khusyu’ dan tawaddhu’.


Al-Haamiduun artinya memuji Allah dengan senantiasa melakukan perbuatan-perbuatan terpuji dan menghindarkan diri dari perbuatan tercela.


As-Saa’ihuun artinya senantiasa menahan diri dari kenikmatan bahkan mempuasakan diri dari berbagai kelezatan dengan bersusah payah untuk melaksanakan jihad di jalan Allah.
Ar-Raaki’uun as-Saajiduun adalah perlambang dari penekanan akan pentingnya menjaga sholat, untuk menperbanyak dan pemberpanjang ruku’ dan sujud. Juga merupakan perlambang dari keadaan tunduk, patuh dan taat.


Amar ma’ruf nahi munkar artinya mereka itu senantiasa berada dalam kebaikan dan memerintahkan kepadanya dan menjauhkan diri dari kemungkaran dan melarang darinya
Wal-Haafidzuuna li huduudillah adalah perlambang dari keteguhan mereka dalam menjaga dan melaksanakan hukum-hukum dan syariat Allah.


Wa Basysyiris Shoobirin maka sampaikanlah berita gembira kepada orang arang yang sabar.
Demikianlah sifat arang beriman yang yakin akan perjanjiannya dengan Allah, semoga kita termasuk didalamnya.

Semoga Allah Ta’ala berkenan menerina bai’at yang kita ucapkan dan kita peresaksikan, dan memandaikan kita dalam melaksanakan tugas suci dalam rangka membersihkan diri dan meninggikan kalimat Allah, dan semoga berkenan kiranya Allah mengampuni dosa dan kesalahan kita dan meridhoi kita dunia dan akhirat. Amin.

Ayat pendukung : Al Fatah 10 dan 18, Almumtahanah 12,

1 Maksudnya: melawat untuk mencari ilmu pengetahuan atau berjihad atau mempersiapkan jihad. ada pula yang menafsirkan dengan orang yang berpuasa.



BIOGRAFI UST. ABDUL QODIR HASAN BAROJA’
Januari 26, 2009, 10:43 am
Filed under: biografi ustadz khilafatul muslimin
AL-HAFIDZ ZULKIFLI RAHMAN DAN AL-HAFIDZ ABDUL QODIR HASAN BAROJA'

AL-HAFIDZH UST. ZULKIFLI RAHMAN (KIRI)& AL-HAFIDZH UST. ABDUL QODIR HASAN BAROJA' (KANAN)

Abdul Qadir Baraja1

Khilafatul Muslimin ini dimaklumatkan kembali oleh Abdul Qadir Baraja, dan berlokasi di Lampung. Khilafatul Muslimin memiliki tujuan menegakkan Khilafah Islamiyyah di seluruh dunia, bermula dari Indonesia. Abdul Qadir Hasan Baraja lahir pada tanggal 10 Agustus 1944 di Taliwang, Sumbawa. Pendiri Darul Islam di Lampung pada tahun 1970, pendiri Pondok Pesantren Ngruki. Abdul Qadir Hasan Baraja telah mengalami 2 kali penahanan, pertama pada Januari 1979 berhubungan dengan Teror Warman, ditahan selama 3 tahun. Kemudian ditangkap dan ditahan kembali selama 13 tahun, berhubungan dengan kasus bom di Jawa Timur dan Borobudur pada awal tahun 1985. Abdul Qadir Hasan Baraja mendirikan Khilafatul Muslimin, sebuah organisasi yang bertujuan untuk melanjutkan kekhalifahan Islam pada tahun 1997. Ia ikut ambil bagian dalam mendirikan Majelis Mujahidin Indonesia pada bulan Agustus 2000, tetapi tidak aktif menjadi anggota MMI (Majelis Mujahidin Indonesia).

Sejarah perkembangan: Tahun 1979 setelah kasus Komji terlibat dengan Habib Husein, Abdul Qodir terlibat dalam peledakan Candi Borobudur, sehinga ditahan sampai masa Reformasi. Dalam penjara itulah ia menyatakan telah menerima bai’at (sumpah setia) dari saudara Irfan dan Jaka untuk menjadi Khalifah. Dalam literatur dalil Islam Abdul Qodir berpendapat tidak ada rumusan yang qoth’ie (paripurna) untuk mengangkat Khalifah, sehingga walau dengan 2 orang saja sudah cukup, maka sosialisasi Khalifah mulai dikumandangkan termasuk dalam pertemuan MMI tahun 2000 hingga sekarang.

Wilayah operasional Faksi Abdul Qadir Baradja adalah Jakarta, Lampung, NTB, Jawa Tengah, Depok, Bogor, Tangerang, Bekasi, Sukabumi, Purwakarta, Cirebon, Yogyakarta, Semarang, Solo, Surakarta, Madura, Banjarmasin, Samarinda, dan Balikpapan. Sementara sumber pengadaan dana faksi ini adalah infaq, shadaqah, dan amal jama’i. Faksi ini mendapat dukungan luar ummat yang ada di Amerika Serikat,2 Kanada, Singapura, Malaysia, Brunai Darussalam, Arab Saudi, Bahrain, Mesir, Hongkong/Shenzen, Filipina, Jerman, Inggris, dan Perancis.

Kemampuan militer diperhitungkan mencapai angka 1 resimen. Kamp latihan berlokasi Gudang Angin, Lampung. Strategi yang dilakukan oleh faksi ini dipakai adalah syariah tanzhim (gerakan dakwah terbuka). Sementara taktik yang digunakan adalah askariah bertahan dan sosialisasi dakwah. Pelatihan-pelatihan yang sering dilakukan di daerah konflik dan gunung-gunung. Sementara menjadi sasaran dari pelatihan adalah training kekhalifahan di setiap kecamatan (sub-district), perekrutan massa di setiap propinsi, dan pendataan kekuatan RI dari aspek militer.

Faksi Abdul Qadir Baradja menganut ideologi, Islam, Suni, fundamentalis, anti-teroris dan berafiliasi dengan partai politik, tidak punya hubungan kerjasama dengan partai politik. Komunitas pendukung faksi ini mempunyai 300.000 anggota di seluruh Indonesia dan sekitarnya, basis pesantren, petani, buruh, dan mahasiswa.

Sementara tanggapan negara RI terhadap faksi ini belum dianggap berbahaya karena dalam pendekatan politik lebih akomodatif. Sering juga berhubungan dengan aparat keamanan, polisi, dalam hampir setiap acara dakwah sosialisasinya.

Kejadian-kejadian yang berkaitan dengan kelompok ini adalah gerakan Komando Jihad (1976), Teror Warman (1978), Kasus Peledakan Candi Borobudur, Jawa Tengah (1985), dan Kasus Talangsari, Lampung (1989).

Kegiatan yang hingga sekarang dilakukan adalah hanya pembinaan rutin di setiap sekretariat wilayah, ummul quro’ (district dan sub district) serta di tingkat pengurus Mas’ul Ummah dan Sosialisasi kekhalifahan di berbagai tempat, hampir setiap minggu. Kegiatan-kegiatan yang direncanakan faksi ini adalah mewujudkan kembali cita-cita NII sampai terwujud kekhalifahan, Seminar Khilafah di setiap propinsi dan kota-kota besar, dan lain-lain.

Anggaran pertahun untuk kegiatan-kegiatan yang dilakukan faksi ini tidak ada catatan resmi; namun diperkirakan berkisar 500 juta.

1Ditulis oleh Al Chaidar (Pengamat Terorisme Internasional di Indonesia)

2Interview dengan Ustadz Abdul Qadir Baraja, Bandar Lampung, December 2005.



TAFSIR QS. AL ANFAL (8): 1-4
Januari 26, 2009, 10:39 am
Filed under: MATERI HAFALAN, TAFSIR ALQURAN

MATERI HAFALAN KESEBELAS

WARGA KHILAFATUL MUSLIMIN DI CILACAP

(UNTUK BULAN SYA’BAN 1430 H)

BEBERAPA CIRI DAN KRITERIA ORANG BERIMAN

QS. AL-ANFAL (8): 1-4


(KHOT)

  1. Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: “Harta rampasan perang kepunyaan Allah dan Rasul1, oleh sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu; dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman.”

  2. Sesungguhnya orang-orang yang beriman2 ialah mereka yang bila disebut nama Allah3 gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.

  3. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.

  4. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia.

Berkata Imam Ahmad dari Abi umamah: saya bertanya kepada Ubadah tentang anfal, dia berkata: “Ayat ini turun pada kami Ashabu Badrin (pelaku perang badar) ketika kami berselisih tentang rampasan perang, dan ketika akhlak kami menjadi buruk dengan memperebutkannya, maka Allah mengambilnya dari tangan kami dan menyerahkannya kepada Rasulullah, kemudian Rasul membagikannya kepada kaum Muslimin secara merata”.

Diriwayatkan dari Abu Mu’awiyah bin Umar dari Ubadah bin Shamit bahwa pada peristiwa perang badar Rasulullah membagi-bagi pasukannya menjadi beberapa thoifah, masing-masing dengan tugasnya sendiri-sendiri, satu thoifah yang berhadapan langsung dengan musuh dan thoifah lainnya melindungi mereka dan yang satu lagi khusus melindungi Rasulullah hingga tidak diganggu musuh. Pada malam harinya berkata sekelompok orang yang mengumpulkan ghanimah; “kamilah yang telah berupaya mengumpulkannya, maka kamilah yang lebih berhak” sementara yang berhadapan langsung dengan musuh mengatakan “kamilah yang lebih berhak karena kamilah yang telah mengalahkan musuh”, sementara yang menjaga Rasulullah berkata; “kami khawatir serangan dadakan terhadap Rasulullah sehingga kami tetap bersiaga melindungi beliau maka peran kami juga tidak kalah pentingnya”. Ketika itu turunlah ayat ini.

Dari Annas RA berkata: “Ketika Rasulullah sedang duduk-duduk, tiba-tiba kami melihatnya tertawa hingga nampak kedua gigi serinya”. Maka berkata Umar: “Apa yang membuat engkau tertawa yaa Rasulullah?”, beliau bersabda: “Ada dua orang dari ummatku yang mengadukan persoalannya di hadapan Rabbul Izzati”, salah seorang berkata: “Ya Rabbi, orang ini telah mendzalimi aku, maka tolong ambilkanlah hak-ku darinya”, Allah berfirman: ”Berikan hak saudaramu ini!”. Dia berkata: ”Yaa Rabbi, tidak tersisa lagi pada ku suatu kebaikanpun untuk kuberikan padanya”. Orang itu menuntut lagi “Kalau begitu yaa Rabbi, hendaklah dia menanggung dosa-dosaku”. Umar berkata:”ketika itu berlinanglah air mata Rasulullah, beliau pun menangis seraya berkata: ”sesungguhnya hari itu adalah hari yang sangat berat, dimana setiap orang membutuhkan orang lain untuk meringankan beban dosanya……”

Maka Allah SWT berfirman kepada yang menuntut “Angkatlah wajahmu dan pandanglah pada surga-surga itu”. Dia mengangkat wajahnya dan berkata: “Yaa Rabb-ku, aku melihat kota-kota dari perak dan istana-istana dari emas yang bertatahkan intan permata. Milik Nabi manakah ini?, milik shiddiiqiin manakah ini?, milik syuhada’ manakah ini?” Allah berfirman: ”ini milik siapa saja yang mampu membayar harganya”, dia berkata; “siapakah kiranya yaa Rabbi yang mampu membayar harganya?” Allah berfirman: “Kamu jika kau mau”, “Bagaimana itu yaa Rabbku?” Allah berfirman: “Dengan memaafkan saudaramu”. Si penuntut itu berkata: “Yaa Rabbi, saya maafkan saudaraku itu, dan saya tidak akan menuntut apapun darinya!”, Allah berfirman: “Kalau begitu, gandenglah tangan saudaramu dan masuklah kalian berdua ke dalam surga itu”. Kemudian Rasulullah membacakan ayat: ”…oleh sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu…” Demikianlah cara Allah memperbaiki hubungan di antara orang yang beriman di hari kiamat. (Tafsir Ibnu Katsir, Juz III hal. 238, cet. Beirut thn 1966).

Dalam meperbaiki hubungan terhadap sesama, cara yang benar adalah yang tidak keluar dari koridor ketaatan kepada Allah dan RasulNya dan mestilah dilandasi dengan dasar taqwa, oleh sebab itu Allah mensejajarkan antara perintah taqwa, memperbaiki hubungan antar sesama dan perintah taat kepada Allah dan RasulNya. Artinya hubungan antar sesama itu dapat mudah diperbaiki jika kalian benar-benar beriman, benar benar bertaqwa dan taat kepada Allah dan RasulNya. Keimanan itulah yang membuat seseorang mudah memaafkan orang lain karena dia yakin bahwa ketika dia memaafkan itu ia pasti akan mendapat imbalan yang tinggi disisi Allah. Kesalahan orang lain itu akan segera menjadi kecil didepan matanya jika dia ingat betapa besar pahala yang akan dia dapatkan. Cukuplah riwayat diatas menjadi contoh, betapapun dia menuntut kepada orang yang pernah menzaliminya itu, tapi ketika dilihatnya syurga yang bakal dia dapat kalau dia mau memaafkan, serta merta dia langsung mengatakan “Yaa Rabbi, saya maafkan saudaraku itu, dan saya tidak akan menuntut apapun darinya!”, karena apa yang diberikan Allah kepadanya sudah lebih dari apa yang dapat ia bayangkan. Hal itu karena ia yakin dan beriman.

Setelah menerangkan tentang perintah taqwa, perintah memperbaiki hubungan antar sesama, dan perintah taat, Allah menerangkan beberapa kriteria orang yang benar-benar beriman itu dengan firmanNya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.

Berkata Ibnu Abbas: “sesungguhnya orang munafik itu tidak sedikitpun dapat masuk zikrullah ke dalam hatinya, ketika melaksanakan ibadah tidak pula hatinya mengimani sesuatupun dari ayat Allah, serta tidak bertawakkal. Tidak melaksnakan sholat apabila tidak terlihat dan tidak pula menunaikan zakatnya, maka Allah ta’ala menerangkan bahwa sebenarnya mereka tidaklah beriman”. Sementara sifat orang beriman yang diterangkan Allah dalam ayat ini; pertama; hati mereka tunduk hingga jika disebut nama Allah tergetarlah hati mereka. Kedua: iman mereka semakin bertambah setiap dibacakan ayat ayat allah, dan ketiga: senantiasa bertawakkal hanya kepada Allah tidak kepada selainnya.

Yang tiga itu adalah pekerjaan hati yang hanya Allah sajalah yang tahu, kemudian Allah menambah dua kriteria lagi yang dapat nampak di mata manusia, yaitu; senantiasa menegakkan sholatnya, serta menafkahkan setiap rizki yang Allah berikan padanya. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya (mukmin haqqon). mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia. (ayat 4).

Tentang mukmin haqqan ini ada suatu riwayat dari Harits bin Malik Al-Anshari bahwa suatu hari dia berlalu di hadapan Rasulullah , maka beliau , menyapanya: “Bagaimana kabarmu pagi ini wahai Harits?” dia menjawab: “Saya merasa telah beriman yang sebenar-benarnya (mukmin haqqan), beliau bersabda: “Sudahkah kau perhatikan apa yang kau katakan itu? Sesungguhnya setiap sesuatu ada tanda-tandanya, apa tanda keimananmu itu?” Al-Harits berkata: “Aku menghindarkan diriku dari dunia, maka aku menghidupkan malamku dan mem-puasa-kan siangku, seolah-olah aku melihat penduduk surga saling berkunjung di antara mereka dan aku melihat penduduk neraka saling menjerit di antara mereka” Maka Rasul bersabda: “Yaa Haarits, engkau telah mengerti, maka tetaplah pada keadaanmu (tiga kali)”

Bagi orang mukmin haqqan ini Allah menjanjikan tiga hal, yaitu: derajat yang tinggi di sisi Rabb mereka yaitu di surga-surga yang penuh keindahan, ampunan dari dosa dan kesalahan yang pernah mereka lakukan dan juga rizki yang mulia.

Semoga Allah menjadikan hati kita mudah tergetar dengan ayat-ayat Allah, menjadikan iman kita bertambah setiap mendengar ayat Allah, dan jiwa raga kita sepenuhnya bertawakkal kepada Allah semata. Semoga Allah ringankan kita dalam melaksanakan sholat dan menunaikan infaq dan zakat sehingga kita dapat menjadi mukmin haqqon, yang oleh Allah ditinggikan derajatnya dihadapan Allah maupun dihadapan manusia, diampuni dosa dosa kita dan diberi rizki yang mulia, di dunia dan di akhirat. Amin.

Ayat pendukung : Al-Anfal: 74, Al-Hujurat: 15, Al-Hujurat:10, Al-Furqon : 63

1 Maksudnya: pembagian harta rampasan itu menurut ketentuan Allah dan RasulNya.

2 Maksudnya: orang yang sempurna imannya.

3 Dimaksud dengan disebut nama Allah Ialah: menyebut sifat-sifat yang mengagungkan dan memuliakannya.



TAFSIR QS. ALI IMRON (3): 118-120
Januari 26, 2009, 10:37 am
Filed under: MATERI HAFALAN, TAFSIR ALQURAN

MATERI HAFALAN KESEPULUH


WARGA KHILAFATUL MUSLIMIN DI CILACAP

(UNTUK BULAN ROJAB 1430H)

TENTANG PERWALIAN DAN LOYALITAS

DALAM HUBUNGAN KEMASYARAKATAN

QS. ALI IMRAN (3) : 118-120


(KHOT)


118. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.


119. Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, Padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada Kitab-Kitab semuanya. apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati.


120. Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa sebagian kaum muslimin ada yang mengadakan hubungan dengan segolongan kaum yahudi kerena di zaman jahiliyah pernah menjadi tetangga dan bersekutu dalam peperangan, maka turunlah ayat tersebut di atas yang melarang untuk mengadakan hubungan yang akrab dengan mereka untuk menghindari fitnah.
Allah yang maha suci lagi maha tinggi berfirman sebagai larangan bagi hamba-hambanya yang beriman agar tidak menjadikan kaum munafik sebagai teman akrab karena mereka akan memperlihatkan rahasia-rahasia dan apa yang disembunyikan kaum mukmin kepada pihak musuh. (tafsir Ibnu Katsir hal 573).


Kata Bithonah berarti teman khusus sehingga ia dapat mengetahui rahasia pribadi.
Al Bukhari dan An-Nasa’I meriwayatkan dari Abu Said Al Khudri bahwa Rasulullah bersabda ;

Tidaklah Allah mengutus seorang nabi dan tidaklah Dia mengangkat seorang kholifah melainkan ia memiliki dua kelompok pendamping (bithonah), yang satu menyuruh dan menganjurkan kepada kebaikan yang satu lagi kepada kejahatan. Orang maksum ialah yang dipelihara dalam perlindungan Allah.


Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Abu Dakhonah dia bearkata bahwa telah dilaporkan kepada Umar bin Khottob akan adanya seorang pemuda ahlul kitab yang cakap dan pandai dalam urusan tulis-menulis. Umar disarankan untuk menjadikannya sebagai juru tulisnya, maka Umar berkata “Jika demikian berarti saya telah mengambil bithonah dari non muslim”.
Ayat dan atsar tersebut menunjukkan bahwa orang dzimmi tidak boleh dikaryakan dalam kegiatan kesekretariatan dalam urusan intern orang beriman. Allah mengingatkan “mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu”. Nyata benar permusuhan itu dari raut muka dan lontaran kata-kata mereka, maka Allah menerangkan bahwa apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi, begitu juga tanda-tanda lain yang terlihat nyata bagi orang-orang yang berakal. Firman Allah “sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya“.


Diantara kaum mukminin ada yang menjalin persahabatan dan cinta kasih yang sedemikian rupa kepada orang-orang yang diluar kalangan mereka (Ahlul kitab dan munafiqin). Mereka saling mencurahkan isi hati dan perasaan mereka atas dalih persahabatan dan kasih sayang sesama manusia, bahkan diantara mereka mencurahkan potensi yang ada padanya untuk kepentingan mereka. Orang yang demikian itulah yang ditegur Allah agar mereka selamat dari makar musuh-musuh mereka.


Dalam menerangkan lanjutan ayat ini Al-Imam Ibnu Katsir menerangkan firman Allah “….beginilah mereka kamu menyukai mereka padahal mereka tidak menyukai kamu” maksud ayat ini, kata beliau “yakni kamu mencintai mereka lantaran keimanan yang diperlihatkan kepadamu padahal mereka tidak mencintaimu, baik secara zahir maupun batin, sementara “kamu beriman kepada kitab seutuhnya”.


Berkata Ibnu Abbas: “kamu beriman kepada kitabmu dan kitab mereka serta kitab-kitab terdahulu sementara mereka kafir terhadap kitab-kitabmu sehingga mestinya kamulah yang lebih berhak membenci mereka”


Firman Allah:


“Apabila mereka bertemu denganmu maka mereka berkata kami telah beriman dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antara marah bercampur benci terhadap kamu”. Ungkapan menggigit ujung-ujung jari artinya sama seperti ungkapan mengatupkan geraham dan menyimpan kemarahan. Itulah perilaku kaum munafikin. Karena demikian benci dan marahnya kepada orang beriman Allah berfirman : “Matilah kalian karena kemarahan kalian itu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati.” Karena semakin kalian membenci orang yang beriman semakin Allah menolong mereka sampai sempurna pertolongan Allah dan sempurna pula kebencian kalian sampai kalian mati oleh kebencian yang menguasai hati kalian itu. Dan diakhirat kalian akan diazab dengan azab yang kekal lagi membara sementara orang beriman mendapat syurga dan keridhaan Allah.


Kemudian Allah menerangkan sifat dan perilaku mereka yang lain dalam firmanNya: “Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya”. Hal ini terjadi pada perang uhud ketika suatu keburukan menimpa kaum muslimin maka bergembiralah kaum munafik itu. Allah kemudian menghibur orang beriman dengan firmannya : ”jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.”


Tidak ada saebuah perkarapun yang terjadi melainkan sesuai dengan takdir dan kehendak Allah . Barang siapa yang berserah diri kepadaNya maka cukuplah. Peristiwa perang uhud itu hanya merupakan ujian dan juga menjadi sarana untuk memperjelas mana orang yang bermiman dan mana orang-orang munafik serta orang-orang yang bersabar. Ini contoh perilaku kaum munafikin di zaman Rasulullah.


Berbagai kondisi dan perilaku mereka Allah terangkan juga dalam beberapa ayat lain seperti QS : Annisa : 138-139 yaitu :

(KHOT)

138. Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih,


139. (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka Sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.

Allah mengancam dengan azab yang pedih bagi orang yang mengambil orang munafiq sebagai teman penolong, karena Allah mengetahui bahwa ketulusan yang diberikan oleh orang beriman terhadap mereka hanya akan berbalas kekecewaan dan pengkhianatan. Bahkan justru ketika orang beriman menunjukkan sikap yang baik dan menunjukkan kecintaan kepada orang kafir, ketika itulah mereka akan berupaya memanfaatkan orang beriman untuk kepentingan mereka yang justru akan menghancurkan saudara mereka sesama iman.
Menjerit kayu melihat kampak yang menebangi dan memecahkannya menjadi berkeping-keping, maka berkatalah sang kampak: “sesungguhnya aku tak dapat berbuat apa apa sekiranya saudaramu sesama kayu tidak bersedia menjadi gagang ku”.


Demikianlah semakin kuat kayu yang menjadi gagang kampak itu, maka semakin danyak pula kayu lain yang akan menjadi korbannya.


Ketika seorang hamba telah mencurahkan seluruh potensinya untuk kepentingan Allah, maka tidak akan tersisa lagi pada dirinya potensi yang dapat dia sumbangkan secara suka rela terhadap bentuk apapun dari sistim yang menyalahi ajaran Allah dan RasulNya.


Semakin besar kecintaan seorang beriman kepada Allah SWT, maka semakin besar pula perwalian yang diberikan kepada Allah, Rasul dan Ulil Amri yang melaksanakan sistim Allah dan RasulNya , sebaliknya akan semakin besar pula penolakannya terhadap semua sisitim yang menyalahi sistim Allah dan RasulNya , meskipun pada sistim itu sepintas dia melihat ada kebaikan yang mungkin dapat dia raih, baik secara pribadi maupun secara jama’i.


Imam Hasan Al-Banna pernah berkata; “seandainya seorang Muslim mengetahui apa saja kewajibannya dari Allah SWT yang harus ia tunaikan, niscaya waktu yang ada tidak akan cukup untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban tersebut”. Nah, bagaimanakah dengan orang yang justru sedemikian banyak meluangkan waktunya untuk selain Allah. Bahkan waktu yang ada juga disibukkan dengan kepentingan selain Islam?


Setiap mukmin hendaknya mengetahui dengan pasti kemana loyalitasnya mesti dia serahkan sepenuhnya. Dia harus tahu persis mana Ar Rusydu (jalan kebenaran/petunjuk) dan mana Al Ghoyyu(jalan kesesatan) hingga ia tidak keliru dalam memilih jalan yang harus ditempuh dalam kehidupan ini. Allah berfirman:


(KHOT)

Tidak ada paksaan dalan (memasuki) dien (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”. Al-Baqarah: 256


Keimanan yang benar tentunya adalah keimanan yang punya pegangan, bukan keimanan yang ngambang, dan pegangan yang baik adalah seperti yang digambarkan Allah yaitu al ‘urwatul wutsqo, buhul tali yang amat kuat yang tidak akan terputus. Kemudian dia tinggal memegangnya dengan kuat dan tidak akan pernah dilepaskan, kapanpun dan dimanapun hingga ia menemui Allah Malikur Rahman untuk menerima imbalan dari setiap jerih payahnya dalam memegang dan mempertahankan kebenaran yang dipegang dalam genggaman tangannya…


Sifat lain yang diterangkan Allah yang merupakan karakter umum bagi kaum kafir dan munafiqin, diterangkan dalam ayat berikutnya, firman Allah ayat 120.


“Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya”. Demikianlah keterangan yang jelas dari Allah untuk menjadi perhatian bagi hambaNya yang beriman, agar menghadapinya dengan penuh kesabaran dan taqwa. Firman Allah: “jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu”.


Bersabar untuk tidak mengambil penolong dari luar kalangan orang beriman meskipun sebenarnya kamu membutuhkannya, sebagaimana Umar bin Khottob tidak hendak mengambil orang itu menjadi juru tulisnya meskipun beliau memerlukan seorang juru tulis yang handal, karena rasa takut dan taqwa kepada Allah yang telah melarang akan hal itu. “Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan”.

Ya Allah cukupkanlah bagi kami yang halal agar kami tidak berminat akan yang haram, dan curahkanlah kepada kami kecukupan dan kepuasan hati atas karuniaMu agar kami tak hendak memohon kepada selain Engkau”. Amin.

Referensi lain: Qs. Al-Maidah ayat 51, At-Taubah ayat 23, Al- Mujadillah ayat 22, An-Nahl ayat 36.



TAFSIR QS. AL-BAQOROH (2): 204-209
Januari 26, 2009, 10:35 am
Filed under: MATERI HAFALAN, TAFSIR ALQURAN

MATERI HAFALAN KESEMBILAN

WARGA KHILAFATUL MUSLIMIN DI CILACAP

(UNTUK BULAN JUMADIL TSANI 1430H)

GAMBARAN TENTANG DUA GOLONGAN MANUSIA YANG BERTOLAK BELAKANG DAN PERINTAH UNTUK ISLAM KAAFFAH

QS. Al-Baqarah (2): 204-209


204. Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, Padahal ia adalah penantang yang paling keras.


205. Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk Mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan
1.


206. Dan apabila dikatakan kepadanya: “Bertakwalah kepada Allah”, bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya.


207. Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.


208. Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

209. Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, Maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Ibnu Abi Hathim meriwayatkan dari Sa’id dan Ikrimah yang bersumber dari Ibnu Abbas bahwa ketika pasukan kaum Muslimin (diantaranya terdapat Ashim dan Mursyid)menderita kerugian dalam perang uhud, dua orang dari kalangan munafik berkata: “celakalah mereka yang terpedaya oleh ajakan Muhammad sehingga terluka atau terbunuh, akibatnya mereka tidak lagi merasakan hidup tenteram bersama keluarga mereka ”, maka Allah menurunkan ayat tersebut.


Menurut riwayat lain dikemukakan bahwa Al-Akhnas Bin Syarik (seorang anggota komplotan Zuhrah yang memusuhi Rasulullah), datang kepada Nabi mengutarakan maksudnya untuk masuk Islam dengan bahasa yang sangat menarik sehingga Rasulullah mengaguminya. Dikala pulang dari Rasulullah ia melewati kebun dan ternak kaum Muslimin, dia bakar tanamannya dan ia bunuh ternak-ternaknya, maka turunlah ayat tersebut yang mengingatkan kaum Muslimin akan tipu daya mulut manis orang munafik.

Berkata Ibnu Jarir dari Na’uf Al-Bakkali dimana beliau termasuk di antara qori’ Rasulullah beliau berkata: “Saya menemukan suatu sifat manusia dari ummat ini yang disebutkan dalam kitab Allah yaitu suatu kaum yang memanfaatkan agama untuk mendapatkan dunia, Mulut-mulut mereka lebih manis dari madu sedang hati mereka lebih pahit dari empedu, Dihadapan manusia, mereka berpakaian seperti pakaian domba padahal mereka berhati srigala, kalian akan takjub dengan penampilan mereka sedang kalian tidak tahu apa yang ada dalam hati mereka. Maka seolah Allah mengatakan terhadap mereka “betapa beraninya mereka mengolok-olokkan-Ku maka Aku bersumpah akan mengazab mereka dengan azab yang hanya bisa diperhatikan oleh orang yang hatinya lembut”.


Berkata Al-Qurozy; saya merenungkan ayat ini dalam Al-Qur’an (ayat204-206), ternyata yang dimaksud adalah para Munafiqun. Berkata Ibnu Katsir bahwa yang diriwayatkan oleh Al-Qurazy adalah Hasan Shahih. Maksud dari ayat –“mereka mempersaksikan apa yang ada di hati mereka”-(ayat 204). Adalah; walaupun mereka menampakkan kebaikan kepada manusia dan walaupun mereka bersumpah atas nama Allah akan tetapi Allah mengetahui rahasia hati mereka hingga Allah beritakan kepada orang beriman, sebagaimana firman Allah dalam surah Al Munafiqun:

(KHOT)

Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa Sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. (Al-Munafiquun: 1)

Diterangkan dalam hadits shahih, bahwa Rasulullah bersabda: aayaatul munaafiqiin tsalaasun; tanda orang munafiq ada tiga; apabila ia berkata ia dusta, apabila ia berjanji ingkar apabila bersumpah palsu. (Mutafaqqun ‘alaih),

Dalam surah Al Baqoroh Allah berfirman;


(KHOT)


Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman”. Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka
2, mereka mengatakan: “Sesungguhnya Kami sependirian dengan kamu, Kami hanyalah berolok-olok.” (Al-Baqarah :14)


Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ar-Rabi’ dan Anas tentang Abdullah bin Ubay dan kawan-kawannya dalam peristiwa sebagai berikut: Pada suatu hari di saat mereka bertemu dengan para sahabat Nabi Abdullah bin Ubay berkata kepada teman-temanya: “Lihatlah bagaimana caranya aku mempermainkan mereka yang bodoh-bodoh itu!” Dia pun mendekat dan menjabat tangan Abu Bakar Ash-Shiddiq sambill berkata: “Selamat penghulu Bani Ta’im, Syaikhul Islam dan orang kedua bersama Rasulullah di Gua Tsur yang mengorbankan jiwa dan harta bendanya untuk Rasulullah!”. Kemudian ia menjabat tangan Umar sambil berkata: “Selamat penghulu Bani ‘Adi Bin Ka’ab yang mendapat gelaran Al-Faruq, yang kuat memegang agama Allah yang mengorbankan harta bendanya untuk Rasulullah!”. Kemudian ia menjabat tangan Ali bin Abi Thalib sambil berkata: “Selamat saudara sepupu Rasululah, mantunya, dan penghulu Bani Hasyim sesudah Rasulullah!”.


Setelah mereka berpisah dan berkatalah Abdullah bin Ubay kepada kawan-kawannya “Sebagaimana kalian lihat perbuatanku tadi, jika kalian bertemu dengan mereka, berbuatlah seperti apa yang aku lakukan!” Kawan-kawannya pun menirunya.

Bagi orang Munafiq yang modelnya begini Allah mengancam dengan ayatnya:

(KHOT)


Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. (QS. An-Nisaa’ 145)

Setelah Allah SWT menerangkan tentang seburuk-buruk manusia pada ayat di atas, selanjutnya Allah terangkan tentang sebaik-baik manusia pada ayat berikutnya yaitu orang yang menjual dirinya untuk mendapatkan ridho Allah semata :

(KHOT)


Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya. (QS. Al-Baqarah: 207)

Berkata Ibnu Abbas, Annas bin Malik, Said bin Musayyab, Ikrimah dan para sahabat lainnya, bahwa ayat ini turun pada Suhaib bin Sinan Ar-Ruumi, yaitu ketika ia Islam di Mekkah kemudian hendak hijrah, maka Quraisy menghadangnya agar tidak berhijrah dengan membawa harta bendanya.


Berkata Sa’id Bin Musayyab, ketika Suhaib dalam perjalanan hijrah menuju Nabi beberapa orang Quraisy menghadang, maka diapun berhenti dengan panah siap di tangan dan pedang siap dipinggang, kemudian ia berseru: “Wahai sekalian Quraisy, kalian tahu akulah pemanah ulung dan ahli pedang, kalian tidak akan sampai kepadaku selama panah dan pedang ada di tanganku, akan tetapi, aku tawarkan kepada kalian satu diantara dua, kalian mati terbunuh atau kutunjukkan harta bendaku yang ada di Mekkah!, Mereka berkata “tunjukkanlah” dan Suhaib pun pergi meneruskan perjalanannya. Setiba di Yatsrib beliau disambut hangat oleh Rasulullah seraya bersabda: -“Rabihal bai’u yaa Aba Yahya, rabihal bai’u ya Suhaib”- beruntunglah perdaganganmu wahai Abu Yahya, beruntunglah perniagaanmu wahai Suhaib.
Sementara Allah yang bersemayam di atas ‘Arsy juga menurunkan pujiannya seraya berfirman :


Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.(208)


Ada yang memngatakan bahwa ayat ini diturunkan khusus berkenaan dengan peristiwa Suhaib. Adapun kebanyakan dari para sahabat kemudian mengatakan bahwa ayat ini Allah turunkan bagi setiap mujahid di jalan Allah sebagaimana firman Allah :

(KHOT)

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar. (At-Taubah:111)

Setelah menerangkan tentang kedua model manusia ini, Allah menyeru kepada hamba-hamba yang dicintai dari orang-orang yang beriman untuk masuk kedalam Islam secara keseluruhan, firman Allah :


Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

Berkata Syech Al-Mutawalli Asy-Sya’rawi dalam tafsirnya bahwa masuk Islam secara kaaffah punya dua pengertian :

  1. Bahwa semua orang beriman dalam memasuki Islam hendaklah memasuki keseluruhan ajaran Islam, tanpa kecuali dengan menerapkan seluruh ajarannya dalam kehidupan sehari-hari, baik secara pribadi, keluarga maupun masyarakat luas.

  2. Bahwa semua orang beriman tanpa kecuali diperintahkan untuk masuk ke dalam sistim Islam. Karena, kalau ada yang tidak masuk ke dalam sistim Islam dia akan mengganggu dan menyakiti orang-orang beriman lainnya. Orang-orang seperti itulah yang disebut sebagai mengikuti langkah setan. Maka Allah SWT melarang dengan firmannya dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan, karena sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.

Mengikuti langkah setan artinya tidak masuk kedalam Islam secara kaaffah, karena orang yang demikian itu akan menjadi sasaran empuk bagi setan untuk menggoda mereka, lalu memalingkan mereka dari kebenaran sedikit demi sedikit sampai ketika mereka sudah sangat jauh tersesat, setan kemudian tinggal membisikkan kepada mereka: ”kafir sajalah kamu sekalian!”. Maka ketika mereka kafir setan pun berlepas diri darinya meninggalkannya sebatang kara dalam keadaan merana di dalam neraka jahannam. Ketika seseorang sudah benar-benar kafir, barulah setan berterus terang bahwa dia pun takut kepada Allah Rabbul ‘alamin.


Demikianlah yang diterangkan Allah dalam surat Al-Hasyr ayat 16 dan An- Nuur:21:


(KHOT)

(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) shaitan ketika Dia berkata kepada manusia: “Kafirlah kamu”, Maka tatkala manusia itu telah kafir, Maka ia berkata: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam”. Al-Hasyr: 16

(KHOT)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, Maka Sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (An-Nuur:21)

Bentuk langkah syaithon yang lain adalah mencampur baurkan agama dan kepercayaan ummat beragama, antara satu sama lain hingga melanggar batas toleransi yang tidak dibenarkan oleh syar’i.


Menurut suatu riwayat, ada sekelompok orang-orang Yahudi menghadap kepada Rasulullah hendak beriman dan meminta agar dibiarkan merayakan hari Sabtu dan mengamalkan kitab Taurat pada malam hari. Mereka menganggap bahwa hari Sabtu merupakan hari yang harus dimuliakan, dan kitab Taurat adalah kitab yang diturunkan oleh Allah juga, maka turunlah ayat tersebut di atas untuk tidak mencampurbaurkan agama dan tidak mengikuti langkah langkah syaithon hingga tersesat dari jalan Allah. Adapun yang menghadap itu adalah : Abdullah bin Salam, Tsa’labah, Ibnu Yamin, Asad dan Usaid bin Ka’ab, Sa’id bin Amier dan Qais bin Zaid. (Diriwayatkan dari Ibnu Jarir yang bersumber dari Ikrimah).

Bentuk lain dari langkah syaithon adalah kesediaan seseorang dengan suka rela bertahkim kepada thoghut, padahal Allah sudah memerintahkan untuk mengingkari thoghut itu. Itulah orang yang disesatkan Allah dengan kesesatan yang jauh meski dia sendiri tidak menyadarinya.


Firman Allah.


(KHOT)


Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? mereka hendak berhakim kepada thaghut
3, Padahal mereka telah diperintah mengingkari Thaghut itu. dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim4 terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. An-Nisaa’ 60 dan 65)


Semoga Allah melindungi kita dari mengikuti langkah langkah syaithon dan para sekutunya, semoga Allah tetap menuntun langkah kita agar tetap berada diatas jalan kebenaran, jalan yang lurus, yaitu jalan Allah yang milikNya lah kerajaan langit dan bumi. Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.


Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, Maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Baqarah: 209).

1 Ungkapan ini adalah ibarat dari orang-orang yang berusaha menggoncangkan iman orang-orang mukmin dan selalu Mengadakan pengacauan.

2 Maksudnya: pemimpin-pemimpin mereka.

3 Yang selalu memusuhi Nabi dan kaum muslimin dan ada yang mengatakan Abu Barzah seorang tukang tenung di masa Nabi. Termasuk Thaghut juga: 1. orang yang menetapkan hukum secara curang menurut hawa nafsu. 2. berhala-berhala.

4 Ialah: berhakim kepada selain Nabi Muhammad Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam