Khilafatul Muslimin Perwakilan Cilacap Tengah


BIOGRAFI UST. ABDUL QODIR HASAN BAROJA’
Januari 26, 2009, 10:43 am
Filed under: biografi ustadz khilafatul muslimin
AL-HAFIDZ ZULKIFLI RAHMAN DAN AL-HAFIDZ ABDUL QODIR HASAN BAROJA'

AL-HAFIDZH UST. ZULKIFLI RAHMAN (KIRI)& AL-HAFIDZH UST. ABDUL QODIR HASAN BAROJA' (KANAN)

Abdul Qadir Baraja1

Khilafatul Muslimin ini dimaklumatkan kembali oleh Abdul Qadir Baraja, dan berlokasi di Lampung. Khilafatul Muslimin memiliki tujuan menegakkan Khilafah Islamiyyah di seluruh dunia, bermula dari Indonesia. Abdul Qadir Hasan Baraja lahir pada tanggal 10 Agustus 1944 di Taliwang, Sumbawa. Pendiri Darul Islam di Lampung pada tahun 1970, pendiri Pondok Pesantren Ngruki. Abdul Qadir Hasan Baraja telah mengalami 2 kali penahanan, pertama pada Januari 1979 berhubungan dengan Teror Warman, ditahan selama 3 tahun. Kemudian ditangkap dan ditahan kembali selama 13 tahun, berhubungan dengan kasus bom di Jawa Timur dan Borobudur pada awal tahun 1985. Abdul Qadir Hasan Baraja mendirikan Khilafatul Muslimin, sebuah organisasi yang bertujuan untuk melanjutkan kekhalifahan Islam pada tahun 1997. Ia ikut ambil bagian dalam mendirikan Majelis Mujahidin Indonesia pada bulan Agustus 2000, tetapi tidak aktif menjadi anggota MMI (Majelis Mujahidin Indonesia).

Sejarah perkembangan: Tahun 1979 setelah kasus Komji terlibat dengan Habib Husein, Abdul Qodir terlibat dalam peledakan Candi Borobudur, sehinga ditahan sampai masa Reformasi. Dalam penjara itulah ia menyatakan telah menerima bai’at (sumpah setia) dari saudara Irfan dan Jaka untuk menjadi Khalifah. Dalam literatur dalil Islam Abdul Qodir berpendapat tidak ada rumusan yang qoth’ie (paripurna) untuk mengangkat Khalifah, sehingga walau dengan 2 orang saja sudah cukup, maka sosialisasi Khalifah mulai dikumandangkan termasuk dalam pertemuan MMI tahun 2000 hingga sekarang.

Wilayah operasional Faksi Abdul Qadir Baradja adalah Jakarta, Lampung, NTB, Jawa Tengah, Depok, Bogor, Tangerang, Bekasi, Sukabumi, Purwakarta, Cirebon, Yogyakarta, Semarang, Solo, Surakarta, Madura, Banjarmasin, Samarinda, dan Balikpapan. Sementara sumber pengadaan dana faksi ini adalah infaq, shadaqah, dan amal jama’i. Faksi ini mendapat dukungan luar ummat yang ada di Amerika Serikat,2 Kanada, Singapura, Malaysia, Brunai Darussalam, Arab Saudi, Bahrain, Mesir, Hongkong/Shenzen, Filipina, Jerman, Inggris, dan Perancis.

Kemampuan militer diperhitungkan mencapai angka 1 resimen. Kamp latihan berlokasi Gudang Angin, Lampung. Strategi yang dilakukan oleh faksi ini dipakai adalah syariah tanzhim (gerakan dakwah terbuka). Sementara taktik yang digunakan adalah askariah bertahan dan sosialisasi dakwah. Pelatihan-pelatihan yang sering dilakukan di daerah konflik dan gunung-gunung. Sementara menjadi sasaran dari pelatihan adalah training kekhalifahan di setiap kecamatan (sub-district), perekrutan massa di setiap propinsi, dan pendataan kekuatan RI dari aspek militer.

Faksi Abdul Qadir Baradja menganut ideologi, Islam, Suni, fundamentalis, anti-teroris dan berafiliasi dengan partai politik, tidak punya hubungan kerjasama dengan partai politik. Komunitas pendukung faksi ini mempunyai 300.000 anggota di seluruh Indonesia dan sekitarnya, basis pesantren, petani, buruh, dan mahasiswa.

Sementara tanggapan negara RI terhadap faksi ini belum dianggap berbahaya karena dalam pendekatan politik lebih akomodatif. Sering juga berhubungan dengan aparat keamanan, polisi, dalam hampir setiap acara dakwah sosialisasinya.

Kejadian-kejadian yang berkaitan dengan kelompok ini adalah gerakan Komando Jihad (1976), Teror Warman (1978), Kasus Peledakan Candi Borobudur, Jawa Tengah (1985), dan Kasus Talangsari, Lampung (1989).

Kegiatan yang hingga sekarang dilakukan adalah hanya pembinaan rutin di setiap sekretariat wilayah, ummul quro’ (district dan sub district) serta di tingkat pengurus Mas’ul Ummah dan Sosialisasi kekhalifahan di berbagai tempat, hampir setiap minggu. Kegiatan-kegiatan yang direncanakan faksi ini adalah mewujudkan kembali cita-cita NII sampai terwujud kekhalifahan, Seminar Khilafah di setiap propinsi dan kota-kota besar, dan lain-lain.

Anggaran pertahun untuk kegiatan-kegiatan yang dilakukan faksi ini tidak ada catatan resmi; namun diperkirakan berkisar 500 juta.

1Ditulis oleh Al Chaidar (Pengamat Terorisme Internasional di Indonesia)

2Interview dengan Ustadz Abdul Qadir Baraja, Bandar Lampung, December 2005.