Khilafatul Muslimin Perwakilan Cilacap Tengah


TAFSIR QS. 9: 111-112
Januari 26, 2009, 11:05 am
Filed under: MATERI HAFALAN, TAFSIR ALQURAN

MATERI HAFALAN PERTAMA

WARGA KHILAFATUL MUSLIMIN DI CILACAP

JUAL BELI (BAI’AT) DAN BEBERAPA POIN PENTING YANG MENDASARINYA

QS. At-Taubah (9): 111-112

(Khot)


111. Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar.


112. Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat
1, yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat Munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.

Sesungguhnya Allah memberitahukan kepada orang yang beriman dari hamba-hambanya bahwa jika mereka bersedia menjual diri dan harta mereka dengan berjihad dijalan Allah maka Allah akan membelinya dengan syurga. Hal ini menunjukkan betapa besar karunia Allah serta kemurahanNya kepada hamba.

Berkata Hasan Al-Basri dan Qotadah: “Jika mereka bersedia menjual (berbai’at) demi Allah, maka tinggilah harga mereka”.

Berkata Syamir bin Athiyah: “Tidak seorangpun mengaku muslim melainkan dia pasti bersedia untuk meletakkan bai’at di lehernya. Dia menepatinya dan bersedia mati karnanya”. Kemudian Beliau membaca ayat ini (Qs. 9 : 111).

Abdullah bin Rawahah berkata kepada Rasulullah , pada malam Perjanjian Aqobah (Bai’at Aqobah), “Tentukanlah syarat sesukamu yang harus kami penuhi untuk Robbmu dan untuk dirimu yaa Rasulullah”. Maka Beliau Saw bersabda: “Aku menentukan syarat untuk Robbku agar kalian menyembahnya dan agar kalian tidak menyekutukan sesuatu apapun dengannya dan aku menentukan syarat untuk diriku agar kalian melindungiku sebagaimana kalian melindungi jiwa dan harta kalian”. Para sahabat bertanya: “apa imbalannya jika kami menepatinya ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab “SYURGA”. Merekapun berseru: “Betapa menguntungkan jual beli ini, kami tidak mau mengganti dan tidak ingin diganti”. Maka turunlah ayat ini (QS. 9 :111) artinya mereka sudah puas dengan harga syurga yang Allah tawarkan untuk membeli diri dan harta mereka sehingga tidak akan pernah menerima tawaran lain sebagai penggantinya bahkan mereka tidak pernah mau mendengar tawaran lain berupa apapun yang ditawarkan kepada mereka untuk memalingkan mereka dari Jihad Fiesabilillah. Yang dapat membatalkan syurga yang dijanjikan Allah itu, meskipun dengan seluruh isi dunia. Selama hayat dikandung badan, mereka bersungguh sungguh menjaga perjanjian mereka itu, bersiap siaga kapan saja untuk menepatinya, untuk mendapatkan keuntungan yang tiada tara, yang mereka yakin sekali akan kebenarannya, bahwa Allah pasti menepati janjinya.

Diriwayat dalam kitab Shohihain Rasulullah bersabda, “Allah menjamin dan menanggung bagi siapa saja yang keluar ke jalan Allah untuk semata-mata berjihad di jalanKu dan membenarkan RasulKu jika dia wafatkan, maka dimasukkan ke dalam surga atau dipulangkan ke rumahnya dengan memperoleh pahala atau membawa ghonimah”. Inilah maksud firman Allah Wa’dan ‘alaihi haqqan …( Janji Allah yang Haq dalam Injil, Taurat dan Qur’an).

Allah telah mencatat janji itu didalam kitab-kitabnya yang agung, yaitu Taurat yang diturunkan kepada Musa, Injil yang diturunkan kepada Isa dan Al-Qur’an yang diturunkan kepada Muhammad Rasulullah Saw.. maka bergembiralah orang-orang yang sudah menyatakan dan menepati bai’at (jual beli) dengan Allah itu dengan kemenangan yang besar dan kenikmatan yang abadi.

Ayat ini juga menerangkan betapa tinggi nilai seorang hamba ketika dia mengikat perjanjian jual beli kepada Allah, meskipun dia tadinya adalah orang yang penuh dosa dan noda. Kita umpamakan seseorang yang memiliki sebuah guci tua yang terbiar dihalaman rumahnya, yang setiap hari terkena hujan dan panas, yang berlumur debu dan lumpur, tidak ada seorangpun yang menghiraukannya. Tiba tiba datang seorang ahli arkiologi, ketika melihat guci tua itu dia menawar dengan harga seratus juta, dia benar benar akan membayarnya seratus juta, transaksi untuk itu akan dilaksanakan beberapa hari lagi, dan sekarang diadakan perjanjian yang disaksikan oleh beberapa orang tokoh pemerintah dan pemuka adat, dicatat diatas kertas segel dengan cap dan tanda tangan notaris yang sah…..pertanyaannya, apakah setelah perjanjian itu, guci tua tadi akan tetap terbiar dan tergeletak dihalaman rumah? Tetap berlumur debu dan lumpur? Tetap terkena panas dan hujan? Jawabannya tentu tidak, sekali-kali tidak!!. Pemilik guci yang pandai, tentu serta merta membawa masuk guci tua itu ketempat yang aman, membersihkannya dengan teliti dan hati hati hingga benar benar mengkilat, membungkusnya dengan kain yang lembut berlapis lapis, hingga tidak ada debu yang dapat menempel dengan mudah. Sementara menunggu saat transaksi itu tentu, dia akan merawat dan menjaganya dengan extra ketat dan extra hati hati hingga tidak mengecewakan paembelinya.

Maka bagaimana dengan jiwa raga yang kotor dan berlumur noda dan dosa ini, ketika Allah menawar dengan harga yang sangat tinggi, bukan sekedar seratus atau dua ratus juta, melainkan dengan syurga seluas langit dan bumi yang mengalir sungai-sungai dibawahnya, kekal abadi selamanya. Masih adakah yang diragukan, padahal Allah telah mencatat perjanjian itu dalam tiga kitab suci yang mulia, dipersaksikan oleh rasul yang mulia dan oleh hamba-hamba Allah yang sholih?. Orang yang beriman pastilah serta merta menerina tawaran itu, memenuhi perjanjiannya, dan menjaga diri, jiwa dan raganya. Membersihkannya, mensucikannya, dan melindunginya dari noda dan dosa dengan cara-cara yang diperintahkan Allah sebagaimana Allah firmankan dalam ayat berikutnya (112)


Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat Munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.

At-Taaibuun artinya senantiasa bertaubat atas semua dosa yang telah lalu, dan kedepannya menghindarkan diri dari kenistaan.


Al-Aabiduun artinya tekun beribadah serta senantiasa menjaga diri, menjaga lisan dan perbuatan serta menjaga hati untuk tetap khusyu’ dan tawaddhu’.


Al-Haamiduun artinya memuji Allah dengan senantiasa melakukan perbuatan-perbuatan terpuji dan menghindarkan diri dari perbuatan tercela.


As-Saa’ihuun artinya senantiasa menahan diri dari kenikmatan bahkan mempuasakan diri dari berbagai kelezatan dengan bersusah payah untuk melaksanakan jihad di jalan Allah.
Ar-Raaki’uun as-Saajiduun adalah perlambang dari penekanan akan pentingnya menjaga sholat, untuk menperbanyak dan pemberpanjang ruku’ dan sujud. Juga merupakan perlambang dari keadaan tunduk, patuh dan taat.


Amar ma’ruf nahi munkar artinya mereka itu senantiasa berada dalam kebaikan dan memerintahkan kepadanya dan menjauhkan diri dari kemungkaran dan melarang darinya
Wal-Haafidzuuna li huduudillah adalah perlambang dari keteguhan mereka dalam menjaga dan melaksanakan hukum-hukum dan syariat Allah.


Wa Basysyiris Shoobirin maka sampaikanlah berita gembira kepada orang arang yang sabar.
Demikianlah sifat arang beriman yang yakin akan perjanjiannya dengan Allah, semoga kita termasuk didalamnya.

Semoga Allah Ta’ala berkenan menerina bai’at yang kita ucapkan dan kita peresaksikan, dan memandaikan kita dalam melaksanakan tugas suci dalam rangka membersihkan diri dan meninggikan kalimat Allah, dan semoga berkenan kiranya Allah mengampuni dosa dan kesalahan kita dan meridhoi kita dunia dan akhirat. Amin.

Ayat pendukung : Al Fatah 10 dan 18, Almumtahanah 12,

1 Maksudnya: melawat untuk mencari ilmu pengetahuan atau berjihad atau mempersiapkan jihad. ada pula yang menafsirkan dengan orang yang berpuasa.

Iklan


TAFSIR QS. AL ANFAL (8): 1-4
Januari 26, 2009, 10:39 am
Filed under: MATERI HAFALAN, TAFSIR ALQURAN

MATERI HAFALAN KESEBELAS

WARGA KHILAFATUL MUSLIMIN DI CILACAP

(UNTUK BULAN SYA’BAN 1430 H)

BEBERAPA CIRI DAN KRITERIA ORANG BERIMAN

QS. AL-ANFAL (8): 1-4


(KHOT)

  1. Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: “Harta rampasan perang kepunyaan Allah dan Rasul1, oleh sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu; dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman.”

  2. Sesungguhnya orang-orang yang beriman2 ialah mereka yang bila disebut nama Allah3 gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.

  3. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.

  4. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia.

Berkata Imam Ahmad dari Abi umamah: saya bertanya kepada Ubadah tentang anfal, dia berkata: “Ayat ini turun pada kami Ashabu Badrin (pelaku perang badar) ketika kami berselisih tentang rampasan perang, dan ketika akhlak kami menjadi buruk dengan memperebutkannya, maka Allah mengambilnya dari tangan kami dan menyerahkannya kepada Rasulullah, kemudian Rasul membagikannya kepada kaum Muslimin secara merata”.

Diriwayatkan dari Abu Mu’awiyah bin Umar dari Ubadah bin Shamit bahwa pada peristiwa perang badar Rasulullah membagi-bagi pasukannya menjadi beberapa thoifah, masing-masing dengan tugasnya sendiri-sendiri, satu thoifah yang berhadapan langsung dengan musuh dan thoifah lainnya melindungi mereka dan yang satu lagi khusus melindungi Rasulullah hingga tidak diganggu musuh. Pada malam harinya berkata sekelompok orang yang mengumpulkan ghanimah; “kamilah yang telah berupaya mengumpulkannya, maka kamilah yang lebih berhak” sementara yang berhadapan langsung dengan musuh mengatakan “kamilah yang lebih berhak karena kamilah yang telah mengalahkan musuh”, sementara yang menjaga Rasulullah berkata; “kami khawatir serangan dadakan terhadap Rasulullah sehingga kami tetap bersiaga melindungi beliau maka peran kami juga tidak kalah pentingnya”. Ketika itu turunlah ayat ini.

Dari Annas RA berkata: “Ketika Rasulullah sedang duduk-duduk, tiba-tiba kami melihatnya tertawa hingga nampak kedua gigi serinya”. Maka berkata Umar: “Apa yang membuat engkau tertawa yaa Rasulullah?”, beliau bersabda: “Ada dua orang dari ummatku yang mengadukan persoalannya di hadapan Rabbul Izzati”, salah seorang berkata: “Ya Rabbi, orang ini telah mendzalimi aku, maka tolong ambilkanlah hak-ku darinya”, Allah berfirman: ”Berikan hak saudaramu ini!”. Dia berkata: ”Yaa Rabbi, tidak tersisa lagi pada ku suatu kebaikanpun untuk kuberikan padanya”. Orang itu menuntut lagi “Kalau begitu yaa Rabbi, hendaklah dia menanggung dosa-dosaku”. Umar berkata:”ketika itu berlinanglah air mata Rasulullah, beliau pun menangis seraya berkata: ”sesungguhnya hari itu adalah hari yang sangat berat, dimana setiap orang membutuhkan orang lain untuk meringankan beban dosanya……”

Maka Allah SWT berfirman kepada yang menuntut “Angkatlah wajahmu dan pandanglah pada surga-surga itu”. Dia mengangkat wajahnya dan berkata: “Yaa Rabb-ku, aku melihat kota-kota dari perak dan istana-istana dari emas yang bertatahkan intan permata. Milik Nabi manakah ini?, milik shiddiiqiin manakah ini?, milik syuhada’ manakah ini?” Allah berfirman: ”ini milik siapa saja yang mampu membayar harganya”, dia berkata; “siapakah kiranya yaa Rabbi yang mampu membayar harganya?” Allah berfirman: “Kamu jika kau mau”, “Bagaimana itu yaa Rabbku?” Allah berfirman: “Dengan memaafkan saudaramu”. Si penuntut itu berkata: “Yaa Rabbi, saya maafkan saudaraku itu, dan saya tidak akan menuntut apapun darinya!”, Allah berfirman: “Kalau begitu, gandenglah tangan saudaramu dan masuklah kalian berdua ke dalam surga itu”. Kemudian Rasulullah membacakan ayat: ”…oleh sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu…” Demikianlah cara Allah memperbaiki hubungan di antara orang yang beriman di hari kiamat. (Tafsir Ibnu Katsir, Juz III hal. 238, cet. Beirut thn 1966).

Dalam meperbaiki hubungan terhadap sesama, cara yang benar adalah yang tidak keluar dari koridor ketaatan kepada Allah dan RasulNya dan mestilah dilandasi dengan dasar taqwa, oleh sebab itu Allah mensejajarkan antara perintah taqwa, memperbaiki hubungan antar sesama dan perintah taat kepada Allah dan RasulNya. Artinya hubungan antar sesama itu dapat mudah diperbaiki jika kalian benar-benar beriman, benar benar bertaqwa dan taat kepada Allah dan RasulNya. Keimanan itulah yang membuat seseorang mudah memaafkan orang lain karena dia yakin bahwa ketika dia memaafkan itu ia pasti akan mendapat imbalan yang tinggi disisi Allah. Kesalahan orang lain itu akan segera menjadi kecil didepan matanya jika dia ingat betapa besar pahala yang akan dia dapatkan. Cukuplah riwayat diatas menjadi contoh, betapapun dia menuntut kepada orang yang pernah menzaliminya itu, tapi ketika dilihatnya syurga yang bakal dia dapat kalau dia mau memaafkan, serta merta dia langsung mengatakan “Yaa Rabbi, saya maafkan saudaraku itu, dan saya tidak akan menuntut apapun darinya!”, karena apa yang diberikan Allah kepadanya sudah lebih dari apa yang dapat ia bayangkan. Hal itu karena ia yakin dan beriman.

Setelah menerangkan tentang perintah taqwa, perintah memperbaiki hubungan antar sesama, dan perintah taat, Allah menerangkan beberapa kriteria orang yang benar-benar beriman itu dengan firmanNya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.

Berkata Ibnu Abbas: “sesungguhnya orang munafik itu tidak sedikitpun dapat masuk zikrullah ke dalam hatinya, ketika melaksanakan ibadah tidak pula hatinya mengimani sesuatupun dari ayat Allah, serta tidak bertawakkal. Tidak melaksnakan sholat apabila tidak terlihat dan tidak pula menunaikan zakatnya, maka Allah ta’ala menerangkan bahwa sebenarnya mereka tidaklah beriman”. Sementara sifat orang beriman yang diterangkan Allah dalam ayat ini; pertama; hati mereka tunduk hingga jika disebut nama Allah tergetarlah hati mereka. Kedua: iman mereka semakin bertambah setiap dibacakan ayat ayat allah, dan ketiga: senantiasa bertawakkal hanya kepada Allah tidak kepada selainnya.

Yang tiga itu adalah pekerjaan hati yang hanya Allah sajalah yang tahu, kemudian Allah menambah dua kriteria lagi yang dapat nampak di mata manusia, yaitu; senantiasa menegakkan sholatnya, serta menafkahkan setiap rizki yang Allah berikan padanya. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya (mukmin haqqon). mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia. (ayat 4).

Tentang mukmin haqqan ini ada suatu riwayat dari Harits bin Malik Al-Anshari bahwa suatu hari dia berlalu di hadapan Rasulullah , maka beliau , menyapanya: “Bagaimana kabarmu pagi ini wahai Harits?” dia menjawab: “Saya merasa telah beriman yang sebenar-benarnya (mukmin haqqan), beliau bersabda: “Sudahkah kau perhatikan apa yang kau katakan itu? Sesungguhnya setiap sesuatu ada tanda-tandanya, apa tanda keimananmu itu?” Al-Harits berkata: “Aku menghindarkan diriku dari dunia, maka aku menghidupkan malamku dan mem-puasa-kan siangku, seolah-olah aku melihat penduduk surga saling berkunjung di antara mereka dan aku melihat penduduk neraka saling menjerit di antara mereka” Maka Rasul bersabda: “Yaa Haarits, engkau telah mengerti, maka tetaplah pada keadaanmu (tiga kali)”

Bagi orang mukmin haqqan ini Allah menjanjikan tiga hal, yaitu: derajat yang tinggi di sisi Rabb mereka yaitu di surga-surga yang penuh keindahan, ampunan dari dosa dan kesalahan yang pernah mereka lakukan dan juga rizki yang mulia.

Semoga Allah menjadikan hati kita mudah tergetar dengan ayat-ayat Allah, menjadikan iman kita bertambah setiap mendengar ayat Allah, dan jiwa raga kita sepenuhnya bertawakkal kepada Allah semata. Semoga Allah ringankan kita dalam melaksanakan sholat dan menunaikan infaq dan zakat sehingga kita dapat menjadi mukmin haqqon, yang oleh Allah ditinggikan derajatnya dihadapan Allah maupun dihadapan manusia, diampuni dosa dosa kita dan diberi rizki yang mulia, di dunia dan di akhirat. Amin.

Ayat pendukung : Al-Anfal: 74, Al-Hujurat: 15, Al-Hujurat:10, Al-Furqon : 63

1 Maksudnya: pembagian harta rampasan itu menurut ketentuan Allah dan RasulNya.

2 Maksudnya: orang yang sempurna imannya.

3 Dimaksud dengan disebut nama Allah Ialah: menyebut sifat-sifat yang mengagungkan dan memuliakannya.



TAFSIR QS. ALI IMRON (3): 118-120
Januari 26, 2009, 10:37 am
Filed under: MATERI HAFALAN, TAFSIR ALQURAN

MATERI HAFALAN KESEPULUH


WARGA KHILAFATUL MUSLIMIN DI CILACAP

(UNTUK BULAN ROJAB 1430H)

TENTANG PERWALIAN DAN LOYALITAS

DALAM HUBUNGAN KEMASYARAKATAN

QS. ALI IMRAN (3) : 118-120


(KHOT)


118. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.


119. Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, Padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada Kitab-Kitab semuanya. apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati.


120. Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa sebagian kaum muslimin ada yang mengadakan hubungan dengan segolongan kaum yahudi kerena di zaman jahiliyah pernah menjadi tetangga dan bersekutu dalam peperangan, maka turunlah ayat tersebut di atas yang melarang untuk mengadakan hubungan yang akrab dengan mereka untuk menghindari fitnah.
Allah yang maha suci lagi maha tinggi berfirman sebagai larangan bagi hamba-hambanya yang beriman agar tidak menjadikan kaum munafik sebagai teman akrab karena mereka akan memperlihatkan rahasia-rahasia dan apa yang disembunyikan kaum mukmin kepada pihak musuh. (tafsir Ibnu Katsir hal 573).


Kata Bithonah berarti teman khusus sehingga ia dapat mengetahui rahasia pribadi.
Al Bukhari dan An-Nasa’I meriwayatkan dari Abu Said Al Khudri bahwa Rasulullah bersabda ;

Tidaklah Allah mengutus seorang nabi dan tidaklah Dia mengangkat seorang kholifah melainkan ia memiliki dua kelompok pendamping (bithonah), yang satu menyuruh dan menganjurkan kepada kebaikan yang satu lagi kepada kejahatan. Orang maksum ialah yang dipelihara dalam perlindungan Allah.


Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Abu Dakhonah dia bearkata bahwa telah dilaporkan kepada Umar bin Khottob akan adanya seorang pemuda ahlul kitab yang cakap dan pandai dalam urusan tulis-menulis. Umar disarankan untuk menjadikannya sebagai juru tulisnya, maka Umar berkata “Jika demikian berarti saya telah mengambil bithonah dari non muslim”.
Ayat dan atsar tersebut menunjukkan bahwa orang dzimmi tidak boleh dikaryakan dalam kegiatan kesekretariatan dalam urusan intern orang beriman. Allah mengingatkan “mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu”. Nyata benar permusuhan itu dari raut muka dan lontaran kata-kata mereka, maka Allah menerangkan bahwa apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi, begitu juga tanda-tanda lain yang terlihat nyata bagi orang-orang yang berakal. Firman Allah “sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya“.


Diantara kaum mukminin ada yang menjalin persahabatan dan cinta kasih yang sedemikian rupa kepada orang-orang yang diluar kalangan mereka (Ahlul kitab dan munafiqin). Mereka saling mencurahkan isi hati dan perasaan mereka atas dalih persahabatan dan kasih sayang sesama manusia, bahkan diantara mereka mencurahkan potensi yang ada padanya untuk kepentingan mereka. Orang yang demikian itulah yang ditegur Allah agar mereka selamat dari makar musuh-musuh mereka.


Dalam menerangkan lanjutan ayat ini Al-Imam Ibnu Katsir menerangkan firman Allah “….beginilah mereka kamu menyukai mereka padahal mereka tidak menyukai kamu” maksud ayat ini, kata beliau “yakni kamu mencintai mereka lantaran keimanan yang diperlihatkan kepadamu padahal mereka tidak mencintaimu, baik secara zahir maupun batin, sementara “kamu beriman kepada kitab seutuhnya”.


Berkata Ibnu Abbas: “kamu beriman kepada kitabmu dan kitab mereka serta kitab-kitab terdahulu sementara mereka kafir terhadap kitab-kitabmu sehingga mestinya kamulah yang lebih berhak membenci mereka”


Firman Allah:


“Apabila mereka bertemu denganmu maka mereka berkata kami telah beriman dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antara marah bercampur benci terhadap kamu”. Ungkapan menggigit ujung-ujung jari artinya sama seperti ungkapan mengatupkan geraham dan menyimpan kemarahan. Itulah perilaku kaum munafikin. Karena demikian benci dan marahnya kepada orang beriman Allah berfirman : “Matilah kalian karena kemarahan kalian itu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati.” Karena semakin kalian membenci orang yang beriman semakin Allah menolong mereka sampai sempurna pertolongan Allah dan sempurna pula kebencian kalian sampai kalian mati oleh kebencian yang menguasai hati kalian itu. Dan diakhirat kalian akan diazab dengan azab yang kekal lagi membara sementara orang beriman mendapat syurga dan keridhaan Allah.


Kemudian Allah menerangkan sifat dan perilaku mereka yang lain dalam firmanNya: “Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya”. Hal ini terjadi pada perang uhud ketika suatu keburukan menimpa kaum muslimin maka bergembiralah kaum munafik itu. Allah kemudian menghibur orang beriman dengan firmannya : ”jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.”


Tidak ada saebuah perkarapun yang terjadi melainkan sesuai dengan takdir dan kehendak Allah . Barang siapa yang berserah diri kepadaNya maka cukuplah. Peristiwa perang uhud itu hanya merupakan ujian dan juga menjadi sarana untuk memperjelas mana orang yang bermiman dan mana orang-orang munafik serta orang-orang yang bersabar. Ini contoh perilaku kaum munafikin di zaman Rasulullah.


Berbagai kondisi dan perilaku mereka Allah terangkan juga dalam beberapa ayat lain seperti QS : Annisa : 138-139 yaitu :

(KHOT)

138. Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih,


139. (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka Sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.

Allah mengancam dengan azab yang pedih bagi orang yang mengambil orang munafiq sebagai teman penolong, karena Allah mengetahui bahwa ketulusan yang diberikan oleh orang beriman terhadap mereka hanya akan berbalas kekecewaan dan pengkhianatan. Bahkan justru ketika orang beriman menunjukkan sikap yang baik dan menunjukkan kecintaan kepada orang kafir, ketika itulah mereka akan berupaya memanfaatkan orang beriman untuk kepentingan mereka yang justru akan menghancurkan saudara mereka sesama iman.
Menjerit kayu melihat kampak yang menebangi dan memecahkannya menjadi berkeping-keping, maka berkatalah sang kampak: “sesungguhnya aku tak dapat berbuat apa apa sekiranya saudaramu sesama kayu tidak bersedia menjadi gagang ku”.


Demikianlah semakin kuat kayu yang menjadi gagang kampak itu, maka semakin danyak pula kayu lain yang akan menjadi korbannya.


Ketika seorang hamba telah mencurahkan seluruh potensinya untuk kepentingan Allah, maka tidak akan tersisa lagi pada dirinya potensi yang dapat dia sumbangkan secara suka rela terhadap bentuk apapun dari sistim yang menyalahi ajaran Allah dan RasulNya.


Semakin besar kecintaan seorang beriman kepada Allah SWT, maka semakin besar pula perwalian yang diberikan kepada Allah, Rasul dan Ulil Amri yang melaksanakan sistim Allah dan RasulNya , sebaliknya akan semakin besar pula penolakannya terhadap semua sisitim yang menyalahi sistim Allah dan RasulNya , meskipun pada sistim itu sepintas dia melihat ada kebaikan yang mungkin dapat dia raih, baik secara pribadi maupun secara jama’i.


Imam Hasan Al-Banna pernah berkata; “seandainya seorang Muslim mengetahui apa saja kewajibannya dari Allah SWT yang harus ia tunaikan, niscaya waktu yang ada tidak akan cukup untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban tersebut”. Nah, bagaimanakah dengan orang yang justru sedemikian banyak meluangkan waktunya untuk selain Allah. Bahkan waktu yang ada juga disibukkan dengan kepentingan selain Islam?


Setiap mukmin hendaknya mengetahui dengan pasti kemana loyalitasnya mesti dia serahkan sepenuhnya. Dia harus tahu persis mana Ar Rusydu (jalan kebenaran/petunjuk) dan mana Al Ghoyyu(jalan kesesatan) hingga ia tidak keliru dalam memilih jalan yang harus ditempuh dalam kehidupan ini. Allah berfirman:


(KHOT)

Tidak ada paksaan dalan (memasuki) dien (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”. Al-Baqarah: 256


Keimanan yang benar tentunya adalah keimanan yang punya pegangan, bukan keimanan yang ngambang, dan pegangan yang baik adalah seperti yang digambarkan Allah yaitu al ‘urwatul wutsqo, buhul tali yang amat kuat yang tidak akan terputus. Kemudian dia tinggal memegangnya dengan kuat dan tidak akan pernah dilepaskan, kapanpun dan dimanapun hingga ia menemui Allah Malikur Rahman untuk menerima imbalan dari setiap jerih payahnya dalam memegang dan mempertahankan kebenaran yang dipegang dalam genggaman tangannya…


Sifat lain yang diterangkan Allah yang merupakan karakter umum bagi kaum kafir dan munafiqin, diterangkan dalam ayat berikutnya, firman Allah ayat 120.


“Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya”. Demikianlah keterangan yang jelas dari Allah untuk menjadi perhatian bagi hambaNya yang beriman, agar menghadapinya dengan penuh kesabaran dan taqwa. Firman Allah: “jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu”.


Bersabar untuk tidak mengambil penolong dari luar kalangan orang beriman meskipun sebenarnya kamu membutuhkannya, sebagaimana Umar bin Khottob tidak hendak mengambil orang itu menjadi juru tulisnya meskipun beliau memerlukan seorang juru tulis yang handal, karena rasa takut dan taqwa kepada Allah yang telah melarang akan hal itu. “Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan”.

Ya Allah cukupkanlah bagi kami yang halal agar kami tidak berminat akan yang haram, dan curahkanlah kepada kami kecukupan dan kepuasan hati atas karuniaMu agar kami tak hendak memohon kepada selain Engkau”. Amin.

Referensi lain: Qs. Al-Maidah ayat 51, At-Taubah ayat 23, Al- Mujadillah ayat 22, An-Nahl ayat 36.



TAFSIR QS. AL-BAQOROH (2): 204-209
Januari 26, 2009, 10:35 am
Filed under: MATERI HAFALAN, TAFSIR ALQURAN

MATERI HAFALAN KESEMBILAN

WARGA KHILAFATUL MUSLIMIN DI CILACAP

(UNTUK BULAN JUMADIL TSANI 1430H)

GAMBARAN TENTANG DUA GOLONGAN MANUSIA YANG BERTOLAK BELAKANG DAN PERINTAH UNTUK ISLAM KAAFFAH

QS. Al-Baqarah (2): 204-209


204. Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, Padahal ia adalah penantang yang paling keras.


205. Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk Mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan
1.


206. Dan apabila dikatakan kepadanya: “Bertakwalah kepada Allah”, bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya.


207. Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.


208. Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

209. Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, Maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Ibnu Abi Hathim meriwayatkan dari Sa’id dan Ikrimah yang bersumber dari Ibnu Abbas bahwa ketika pasukan kaum Muslimin (diantaranya terdapat Ashim dan Mursyid)menderita kerugian dalam perang uhud, dua orang dari kalangan munafik berkata: “celakalah mereka yang terpedaya oleh ajakan Muhammad sehingga terluka atau terbunuh, akibatnya mereka tidak lagi merasakan hidup tenteram bersama keluarga mereka ”, maka Allah menurunkan ayat tersebut.


Menurut riwayat lain dikemukakan bahwa Al-Akhnas Bin Syarik (seorang anggota komplotan Zuhrah yang memusuhi Rasulullah), datang kepada Nabi mengutarakan maksudnya untuk masuk Islam dengan bahasa yang sangat menarik sehingga Rasulullah mengaguminya. Dikala pulang dari Rasulullah ia melewati kebun dan ternak kaum Muslimin, dia bakar tanamannya dan ia bunuh ternak-ternaknya, maka turunlah ayat tersebut yang mengingatkan kaum Muslimin akan tipu daya mulut manis orang munafik.

Berkata Ibnu Jarir dari Na’uf Al-Bakkali dimana beliau termasuk di antara qori’ Rasulullah beliau berkata: “Saya menemukan suatu sifat manusia dari ummat ini yang disebutkan dalam kitab Allah yaitu suatu kaum yang memanfaatkan agama untuk mendapatkan dunia, Mulut-mulut mereka lebih manis dari madu sedang hati mereka lebih pahit dari empedu, Dihadapan manusia, mereka berpakaian seperti pakaian domba padahal mereka berhati srigala, kalian akan takjub dengan penampilan mereka sedang kalian tidak tahu apa yang ada dalam hati mereka. Maka seolah Allah mengatakan terhadap mereka “betapa beraninya mereka mengolok-olokkan-Ku maka Aku bersumpah akan mengazab mereka dengan azab yang hanya bisa diperhatikan oleh orang yang hatinya lembut”.


Berkata Al-Qurozy; saya merenungkan ayat ini dalam Al-Qur’an (ayat204-206), ternyata yang dimaksud adalah para Munafiqun. Berkata Ibnu Katsir bahwa yang diriwayatkan oleh Al-Qurazy adalah Hasan Shahih. Maksud dari ayat –“mereka mempersaksikan apa yang ada di hati mereka”-(ayat 204). Adalah; walaupun mereka menampakkan kebaikan kepada manusia dan walaupun mereka bersumpah atas nama Allah akan tetapi Allah mengetahui rahasia hati mereka hingga Allah beritakan kepada orang beriman, sebagaimana firman Allah dalam surah Al Munafiqun:

(KHOT)

Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa Sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. (Al-Munafiquun: 1)

Diterangkan dalam hadits shahih, bahwa Rasulullah bersabda: aayaatul munaafiqiin tsalaasun; tanda orang munafiq ada tiga; apabila ia berkata ia dusta, apabila ia berjanji ingkar apabila bersumpah palsu. (Mutafaqqun ‘alaih),

Dalam surah Al Baqoroh Allah berfirman;


(KHOT)


Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman”. Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka
2, mereka mengatakan: “Sesungguhnya Kami sependirian dengan kamu, Kami hanyalah berolok-olok.” (Al-Baqarah :14)


Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ar-Rabi’ dan Anas tentang Abdullah bin Ubay dan kawan-kawannya dalam peristiwa sebagai berikut: Pada suatu hari di saat mereka bertemu dengan para sahabat Nabi Abdullah bin Ubay berkata kepada teman-temanya: “Lihatlah bagaimana caranya aku mempermainkan mereka yang bodoh-bodoh itu!” Dia pun mendekat dan menjabat tangan Abu Bakar Ash-Shiddiq sambill berkata: “Selamat penghulu Bani Ta’im, Syaikhul Islam dan orang kedua bersama Rasulullah di Gua Tsur yang mengorbankan jiwa dan harta bendanya untuk Rasulullah!”. Kemudian ia menjabat tangan Umar sambil berkata: “Selamat penghulu Bani ‘Adi Bin Ka’ab yang mendapat gelaran Al-Faruq, yang kuat memegang agama Allah yang mengorbankan harta bendanya untuk Rasulullah!”. Kemudian ia menjabat tangan Ali bin Abi Thalib sambil berkata: “Selamat saudara sepupu Rasululah, mantunya, dan penghulu Bani Hasyim sesudah Rasulullah!”.


Setelah mereka berpisah dan berkatalah Abdullah bin Ubay kepada kawan-kawannya “Sebagaimana kalian lihat perbuatanku tadi, jika kalian bertemu dengan mereka, berbuatlah seperti apa yang aku lakukan!” Kawan-kawannya pun menirunya.

Bagi orang Munafiq yang modelnya begini Allah mengancam dengan ayatnya:

(KHOT)


Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. (QS. An-Nisaa’ 145)

Setelah Allah SWT menerangkan tentang seburuk-buruk manusia pada ayat di atas, selanjutnya Allah terangkan tentang sebaik-baik manusia pada ayat berikutnya yaitu orang yang menjual dirinya untuk mendapatkan ridho Allah semata :

(KHOT)


Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya. (QS. Al-Baqarah: 207)

Berkata Ibnu Abbas, Annas bin Malik, Said bin Musayyab, Ikrimah dan para sahabat lainnya, bahwa ayat ini turun pada Suhaib bin Sinan Ar-Ruumi, yaitu ketika ia Islam di Mekkah kemudian hendak hijrah, maka Quraisy menghadangnya agar tidak berhijrah dengan membawa harta bendanya.


Berkata Sa’id Bin Musayyab, ketika Suhaib dalam perjalanan hijrah menuju Nabi beberapa orang Quraisy menghadang, maka diapun berhenti dengan panah siap di tangan dan pedang siap dipinggang, kemudian ia berseru: “Wahai sekalian Quraisy, kalian tahu akulah pemanah ulung dan ahli pedang, kalian tidak akan sampai kepadaku selama panah dan pedang ada di tanganku, akan tetapi, aku tawarkan kepada kalian satu diantara dua, kalian mati terbunuh atau kutunjukkan harta bendaku yang ada di Mekkah!, Mereka berkata “tunjukkanlah” dan Suhaib pun pergi meneruskan perjalanannya. Setiba di Yatsrib beliau disambut hangat oleh Rasulullah seraya bersabda: -“Rabihal bai’u yaa Aba Yahya, rabihal bai’u ya Suhaib”- beruntunglah perdaganganmu wahai Abu Yahya, beruntunglah perniagaanmu wahai Suhaib.
Sementara Allah yang bersemayam di atas ‘Arsy juga menurunkan pujiannya seraya berfirman :


Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.(208)


Ada yang memngatakan bahwa ayat ini diturunkan khusus berkenaan dengan peristiwa Suhaib. Adapun kebanyakan dari para sahabat kemudian mengatakan bahwa ayat ini Allah turunkan bagi setiap mujahid di jalan Allah sebagaimana firman Allah :

(KHOT)

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar. (At-Taubah:111)

Setelah menerangkan tentang kedua model manusia ini, Allah menyeru kepada hamba-hamba yang dicintai dari orang-orang yang beriman untuk masuk kedalam Islam secara keseluruhan, firman Allah :


Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

Berkata Syech Al-Mutawalli Asy-Sya’rawi dalam tafsirnya bahwa masuk Islam secara kaaffah punya dua pengertian :

  1. Bahwa semua orang beriman dalam memasuki Islam hendaklah memasuki keseluruhan ajaran Islam, tanpa kecuali dengan menerapkan seluruh ajarannya dalam kehidupan sehari-hari, baik secara pribadi, keluarga maupun masyarakat luas.

  2. Bahwa semua orang beriman tanpa kecuali diperintahkan untuk masuk ke dalam sistim Islam. Karena, kalau ada yang tidak masuk ke dalam sistim Islam dia akan mengganggu dan menyakiti orang-orang beriman lainnya. Orang-orang seperti itulah yang disebut sebagai mengikuti langkah setan. Maka Allah SWT melarang dengan firmannya dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan, karena sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.

Mengikuti langkah setan artinya tidak masuk kedalam Islam secara kaaffah, karena orang yang demikian itu akan menjadi sasaran empuk bagi setan untuk menggoda mereka, lalu memalingkan mereka dari kebenaran sedikit demi sedikit sampai ketika mereka sudah sangat jauh tersesat, setan kemudian tinggal membisikkan kepada mereka: ”kafir sajalah kamu sekalian!”. Maka ketika mereka kafir setan pun berlepas diri darinya meninggalkannya sebatang kara dalam keadaan merana di dalam neraka jahannam. Ketika seseorang sudah benar-benar kafir, barulah setan berterus terang bahwa dia pun takut kepada Allah Rabbul ‘alamin.


Demikianlah yang diterangkan Allah dalam surat Al-Hasyr ayat 16 dan An- Nuur:21:


(KHOT)

(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) shaitan ketika Dia berkata kepada manusia: “Kafirlah kamu”, Maka tatkala manusia itu telah kafir, Maka ia berkata: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam”. Al-Hasyr: 16

(KHOT)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, Maka Sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (An-Nuur:21)

Bentuk langkah syaithon yang lain adalah mencampur baurkan agama dan kepercayaan ummat beragama, antara satu sama lain hingga melanggar batas toleransi yang tidak dibenarkan oleh syar’i.


Menurut suatu riwayat, ada sekelompok orang-orang Yahudi menghadap kepada Rasulullah hendak beriman dan meminta agar dibiarkan merayakan hari Sabtu dan mengamalkan kitab Taurat pada malam hari. Mereka menganggap bahwa hari Sabtu merupakan hari yang harus dimuliakan, dan kitab Taurat adalah kitab yang diturunkan oleh Allah juga, maka turunlah ayat tersebut di atas untuk tidak mencampurbaurkan agama dan tidak mengikuti langkah langkah syaithon hingga tersesat dari jalan Allah. Adapun yang menghadap itu adalah : Abdullah bin Salam, Tsa’labah, Ibnu Yamin, Asad dan Usaid bin Ka’ab, Sa’id bin Amier dan Qais bin Zaid. (Diriwayatkan dari Ibnu Jarir yang bersumber dari Ikrimah).

Bentuk lain dari langkah syaithon adalah kesediaan seseorang dengan suka rela bertahkim kepada thoghut, padahal Allah sudah memerintahkan untuk mengingkari thoghut itu. Itulah orang yang disesatkan Allah dengan kesesatan yang jauh meski dia sendiri tidak menyadarinya.


Firman Allah.


(KHOT)


Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? mereka hendak berhakim kepada thaghut
3, Padahal mereka telah diperintah mengingkari Thaghut itu. dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim4 terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. An-Nisaa’ 60 dan 65)


Semoga Allah melindungi kita dari mengikuti langkah langkah syaithon dan para sekutunya, semoga Allah tetap menuntun langkah kita agar tetap berada diatas jalan kebenaran, jalan yang lurus, yaitu jalan Allah yang milikNya lah kerajaan langit dan bumi. Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.


Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, Maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Baqarah: 209).

1 Ungkapan ini adalah ibarat dari orang-orang yang berusaha menggoncangkan iman orang-orang mukmin dan selalu Mengadakan pengacauan.

2 Maksudnya: pemimpin-pemimpin mereka.

3 Yang selalu memusuhi Nabi dan kaum muslimin dan ada yang mengatakan Abu Barzah seorang tukang tenung di masa Nabi. Termasuk Thaghut juga: 1. orang yang menetapkan hukum secara curang menurut hawa nafsu. 2. berhala-berhala.

4 Ialah: berhakim kepada selain Nabi Muhammad Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam



TAFSIR QS. AN-NISAA’ (4): 64-65
Januari 26, 2009, 10:33 am
Filed under: MATERI HAFALAN, TAFSIR ALQURAN

MATERI HAFALAN KETUJUH

WARGA KHILAFATUL MUSLIMIN DI CILACAP

(Untuk Bulan Jumadil ‘Ula 1430H)

KRITERIA IMAN YAN BENAR bag. 2

QS. AN-NISAA’ (4): 64-65

(KHOT)

64. Dan Kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya1 datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.


65. Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.

Jika Allah mengatakan bahwa diutusnya Rasul adalah semata-mata untuk ditaati dengan izin Allah, maka tidak ada lagi nilai keimanan dan perjuangan yang dilandasi oleh ketidak taatan kepada Allah, Rasul dan Ulil Amri sehingga perlulah mereka bersegera istighfar mohon ampun kepada Allah. Sampai mereka mendapati hati mereka kembali tunduk sepenuhnya kepada setiap keputusan hukum yang ditentukan oleh Allah dan Rasul utusan Allah.


Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.(ayat 65)

Demikianlah hubungan yang terjalin indah dalam rangkaian ayat-ayat tersebut di atas secara ringkas.

Berkaitan dengan firman Allah “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas: Ayat ini diturunkan sehubungan dengan Abdullah bin Hudzaifah bin Qais bin Adi tatkala diutus oleh Rasulullah dalam suatu pasukan. Imam Ahmad meriwayatkan dari Ali bin Abi Tholib RA dia berkata: Rasulullah SAW mengutus suatu pasukan yang dipimpin oleh seorang Anshar. Setelah mereka berangkat, si pemimpin membuat masalah dalam memimpin mereka, dia berkata kepada mereka (pasukannya) “Bukankankah Rasulullah telah memerintahkan kepada kalian agar mentaati aku?” mereka mengiyakannya, lalu mereka diperintahkan untuk mengambil kayu bakar. Si pemimpin mengambil api dan menyalakan kayu bakar lalu berkata: “Aku perintahkan kepada kalian agar masuk ke dalam api itu”. Seorang pemuda di antara mereka berkata: “Bukankah kalian mengikuti Rasulullah karena lari menghindar dari api (neraka)?, maka janganlah kalian tergesa-gesa mentaatinya hingga kalian menemui Rasulullah. Jika Rasulpun memerintahkan demikian maka ta’atilah”. Berkata Ali RA: ketika mereka kembali kepada Rasulullah dan melaporkan kejadian itu, beliau bersabda; “sekiranya kalian masuk ke dalam api itu, maka kalian tidak akan keluar untuk selamanya, sesungguhnya kewajiban taat itu hanya pada hal-hal yang ma’ruf”. (Disarikan dari tafsir Ibnu Katsir, jilid 1 hal. 739-740, edisi Indonesia oleh: Muhammad Nasib Ar-Rifa’i).

Kepada seorang pemimpin yang memimpin dengan syari’at Allah pun ternyata masih ada batas batas ketaatan, bukan ketaatan mutlak yang membabi buta. Ada banyak hadits yang menerangkan tentang ketaatan, diantaranya :

  1. Seorang muslim wajib mendengar dan taat kepada pemimpinnya, terhadap sesuatu yang dia sukai dan tidak disukai selama tidak diperintah untuk bermaksiat, jika diperintah utk maksiat maka tiada lagi kewajiban mendengar dan taat. (HR. Bukhari & Muslim)

  2. Dengar dan taatlah (kepada pemimpinmu) meskipun kamu diperintah oleh budak Habsyi yang rambutnya bagaikan kismis (HR. Bukhari).

  3. Kamu akan dipimpin oleh beberapa pemimpin sepeninggalanku, kamu akan dipimpin oleh orang yang bajik dengan kebajikannya dan orang bejat dengan kebejatannya. Dengar dan taatilah segala perkara yang sesuai dengan kebenaran. Sholatlah di belakang mereka. Jika mereka baik, maka kebaikan bagimu dan bagi mereka. Jika mereka buruk, maka kebaikannya untuk kita dan keburukannya bagi mereka. (HR. Bukhari).

  4. Barangsiapa yang menaatiku maka dia mentaati Allah. Barangsiapa yang mendurhakaiku maka dia mendurhakai Allah, dan barangsiapa mentaati amirku berarti dia mentaatiku. Barangsiapa mendurhakai amirku maka berarti dia mendurhakaiku.

  5. dan lain lain hadits yang memberi tuntunan kepada kaum muslimin bagaimana mereka harus bersikap terhadap pemimpin mereka yang mengatur dalam sistim Islam, karena aturan ini adalah aturan Islam maka ia berlaku dan sesuai untuk dipakai dalam sistim Islam. Adapun sistim jahiliyah, tidaklah mungkin akan diatur atur oleh Islam. Terserah sistim jahiliyah itu mengatur cara mereka sendiri.

Sejak runtuhnya kekhalifahan Islam (Khilafah Utsmaniyah) 82 tahun yang lalu (1924 M) ummat Islam berada dalam keadaan di mana mereka tidak berada dalam satu kepemimpinan (monoleadership). Masing-masing mereka lantas hidup dalam kehinaan, sementara para musuh menggerogoti dari berbagai penjuru, seperti hidangan lezat yang dikerumuni oleh orang-orang yang sedang kelaparan. Mestinya sesegera mungkin ummat ini disadarkan pada suatu kewajiban untuk membentuk satu kepemimpinan tersendiri dalam tubuh ummat Islam yang independen, universal dan legitimet. Namun yang terjadi, secara umum malah ummat ini justeru berada pada perdebatan sengit yang tak berujung hingga tak kunjung sampai pada pelaksanaan kewajiban mereka.

Beberapa ulama abad ini justeru latah menggunakan dalil Al-Qur’an untuk memerintahkan taat kepada sistim kepemimpinan yang bukan sistim kepemimpinan Islam. Setiap ideologi tentunya memiliki perintah sendiri-sendiri untuk taat pada pemimpin ideologi tersebut. Dalam kitab Injil kita akan mendapatkan perintah untuk mentaati pemimpin, tentu yang dimaksud adalah para Pendeta atau Pastur. Dalam kitab Tripitaka dan Weda kita juga akan menemukan perintah taat kepada pemimpin, tentu kita tahu bahwa pemimpin yang dimaksud bukan Pendeta atau Pastur. Dalam ideologi Pancasila kita akan temukan kalimat yang berbunyi : “Setiap warga negara wajib taat kepada pemimpin negara”, tentu yang dimaksud bukan pemimpin negara lain, apalagi dengan ideologi negara yang berbeda. Begitu pula dalam sistim kepamimpinan Islam, ketika Allah memerintahkan taat kepada Ulil Amri maka tentunya yang dimaksud adalah Ulil Amri dalam sistim tersebut, yaitu; kholifah/Imam. Meski demikian pada kenyataannya masih saja kita temukan dalil yang salah pasang.

Hal yang demikian terjadi karena sudah sangat lama ummat ini terbiasa hidup tanpa kholifah/Imam.

Kehadiran seorang kholifah/Imam dalam tatanan kehidupan kaum Muslimin memang sudah sangat dirindukan, namun pola pikir ummat dewasa ini telah banyak terkontaminasi oleh berbagai teori yang berasal dari sumber lain, sehingga tak kunjung sampai pada pokok masalah yang sebenarnya.

Banyaknya literatur dan buku-buku ilmiah di berbagai perpustakaan adakalanya justeru mangacu pada justifikasi (pembenaran) kondisi berpecah belahnya ummat Islam, bukannya memberi solusi atas perpecahan yang ada.

Firman Allah berikutnya : ayat 64.

Dan Kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah.
Sudah menjadi sunnatullah bahwa pembawa misi risalah, tidaklah serta merta ditaati oleh semua ummatnya, meskipun dia seorang nabi yang diutus Allah, apalagi yang membawa misi kebenaran itu hanya manusia biasa dan bukan seorang nabi. Ketika Allah mengutus Nabi Muhammad SAW, justru orang mekkah sendiri yang mengusir beliau hingga hijrah ke Yatsrib, yang kemudian dinamakan Madinatur Rasul (Madinah). Setelah bertahun tahun Rasulullah menghimpun Ummat yang siap mentaati beliau dengan izin Allah, jumlah mereka menjadi banyak dan solid, barulah Rasulullah dapat memberlakukan syariat Allah secara kaaffah.

Banyak orang yang menganiaya diri mereka sendiri dengan menolak kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah, yang walaupun pada akhirnya mereka tunduk juga setelah perjalanan yang sedemikian panjangnya.

Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya, datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

Betapa besar kasih sayang Allah, bahkan kepada mereka yang pernah menyakiti, menusir dan memerangai Rasulullah dan para sahabat, asalkan mereka bersedia tunduk dalam aturan Allahdan RosulNya. Adapun bagi mereka yang tetap membangkang dari ketaatan kepada Rosulullah, Allah berfirman

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS Ali Imron Ayat 65).

Ya Allah, jadikanlah kami dengan izinmu, termasuk orang yang mentaati RosulMu, dan masukkanlah kami dengan kasih sayangMu termasuk orang beriman yang bersedia dan rela berhukum kepada syari’atMu terhadap perkara apapun yang kami perselisihkan, kemudian hilangkanlah dari hati kami suatu keberatan apapun terhadap kaputusan syari’at Islam hingga kami menerimanya dengan sepenuh hati.

Ya Allah Ya Rabb kami, pandaikanlah kami dalam melaksanakan taat kepadaMu, taat kepada RosulMu, dan kepada Ulil Amri kami, kapanpun dan dimanapun, dengan semata mata berharap ridho dan maghfirohMu. Agar kami dapat melaksanakan tugas suci untuk meninggikan kalimatMu. Ya Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Amin. SEKIAN

1 Ialah: berhakim kepada selain Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam.



TAFSIR QS. AN-NISAA’: 61-63
Januari 26, 2009, 10:31 am
Filed under: MATERI HAFALAN, TAFSIR ALQURAN

MATERI HAFALAN KETUJUH

WARGA KHILAFATUL MUSLIMIN DI KAB. CILACAP, JAWA TENGAH

(Untuk Bulan Robiul Akhir 1430H)

KRITERIA IMAN YAN BENAR
QS. AN-NISAA’ (4): 61-63

(KHOT)

61. Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.


62. Maka Bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: “Demi Allah, Kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna”.


63. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan Katakanlah kepada mereka Perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.

Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.(61)

Demikianlah apa yang mereka lakukan, yaitu menghalangi orang dari memurnikan ketaatan kepada Allah dan RasulNya semata, karena menurut perhitungan mereka dapat membahayakan kondisi mereka yang masih mencampuradukan antara hukum Allah dan hukum thaghut (talbis).

Maka Bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: “Demi Allah, Kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna”. (ayat 62).

Sudah sedemikian banyak kita melihat musibah yang ditimpakan Allah kepada mereka yang tidak mau melaksanakan hukum syari’at Allah, baik kepada setiap pribadi maupun kepada masyarakat secara umum karena mereka menukar nikmat Allah yang berupa petunjuk, tuntunan dan syari’at yang terangkum dalam 30 juz Al Qur’an, dengan kekufuran dan pengingkaran.
Demikian yang difirmankan Allah dalam QS Ibrahim ayat 28:


(KHOT)


”Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah
1 dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan?,


Karena pengingkaran mereka kepada aturan Allah maka kaum yang mentaati mereka menjadi pantas untuk dicampakkan Allah kedalam lembah kebinasaan, maka musibah demi musibah silih berganti mengancam mereka sampai mereka sadar dan bertaubat atas kekufuran mereka atau sampai mereka binasa seluruhnya.

Ada orang orang yang bertahun tahun berjuang untuk dapat melaksanakan hukum syari’at Allah dengan bebas dan merdeka, hingga banyak diantara mereka yang menjadi korban keganasan musuh yang menghalangi mereka untuk itu (thoghut). Hingga ketika suatu saat ketika mereka menyerah dan menyatakan kesediaan untuk bertahkim kepada hukum thoghut, ketika itu mereka sudah menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan, hingga korbanpun berjatuhan dengan jumlah yang tidak pernah mereka bayangkan. Allah mendatangkan musibah dari arah yang tidak pernah mereka duga-duga.

Maka Bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: “Demi Allah, Kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna”. (ayat 62).

Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan Katakanlah kepada mereka Perkataan yang membekas pada jiwa mereka (ayat 63).

1 Yang dimaksud dengan nikmat Allah di sini ialah perintah-perintah dan ajaran-ajaran Allah.



TAFSIR QS. AN-NISAA’ (4): 58-60
Januari 26, 2009, 10:28 am
Filed under: MATERI HAFALAN, TAFSIR ALQURAN

MATERI HAFALAN KEENAM

WARGA KHILAFATUL MUSLIMIN DI KAB. CILACAP, JAWA TENGAH

(BULAN ROBIUL AWWAL 1430H)

TENTANG AMANAT DAN PERINTAH TAAT KEPADA ULIL AMRI

QS. AN NISAA’ (4): 58-60


(KHOT)

58. Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat.


59. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.


60. Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? mereka mau berhakim kepada thaghut
1, Padahal mereka telah diperintah mengingkari Thaghut itu. dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.

Pada ayat 58 Allah SWT menerangkan bahwa melaksanakan amanat dan tanggung jawab adalah perintah Allah kepada seluruh hambaNya, termasuk yang diperintahkan juga adalah menghukum dengan adil antara semua manusia dan Allah adalah sebaik-baik Pemberi pengajaran akan keadilan itu. Maka hendaklah orang beriman menjadikan keadilan Allah sebagai standar, bukan yang lainnya di dalam melaksanakan hukum, sementara Allah tetap mengawasi dan memperhatikan bagaimana kita melaksanakan perintahNya, firman Allah: “Sesungguhnya Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat”.

Pada ayat berikutnya (59) Allah menyeru kepada orang yang beriman untuk mentaati Allah, mentaati Rasul dan Ulil Amri di antara mereka sebagai wujud keimanan kepada Allah dan hari akhir dalam bentuk pelaksanaan hukum dan amanat.


Dalam cakupan yang lebih luas, kata amanat bisa berarti kesanggupan melaksanakan dan menegakkan dien sebagaimana firman Allah dalam surat Al-ahzab:72.


(KHOT)


”Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat
2 kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat bodoh”,

Pelaksanaan amanat yang pernah ditawarkan Allah kepada langit, bumi, serta gunung-gunung yang enggan menerimanya dan disanggupi oleh manusia ini, tidak akan mungkin dapat dilaksanakan dengan sempurna tanpa kepemimpinan yang benar disertai ketaatan sebagaimana yang diperintahkan Allah. Maka firman Allah; “sesungguhnya manusia itu amat bodoh lagi amat dzalim”.

Ketaatan kepada Allah, Rasul dan ulil Amri serta mengembalikan setiap perselisihan kepada Allah dan RasulNya di dalam ayat ini (59) dinyatakan sebagai persyaratan keimanan kepada Allah dan hari akhir “yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.

Tidak hanya sampai di situ, dalam ayat berikutnya Allah juga memerintahkan untuk memperhatikan orang-orang yang disesatkan oleh setan dengan kesesatan yang jauh karena mereka tetap mau berhukum kepada thaghut padahal mereka sudah diperintah untuk mengingkarinya, sementara mereka mengira bahwa diri mereka masih beriman (60).


1 Yang dimaksud thogut adalah mereka yang selalu memusuhi Nabi dan kaum muslimin dan ada yang mengatakan bahwa diantaranya adalah Abu Barzah, seorang tukang tenung (paranormal) di masa Nabi yang biasa dimintai untuk menyelesaikan perselisihan. Termasuk Thaghut juga: 1. orang yang menetapkan hukum secara curang menurut hawa nafsu. 2. berhala-berhala.

2 Yang dimaksud dengan amanat di sini ialah tugas-tugas keagamaan.